Selain membahas tentang AI dan cara membuat konten yang bermanfaat bagi pengguna, salah satu topik pembahasan paling menarik di Search Central Live Jakarta 2023 pada 12 Juli lalu adalah tentang mitos-mitos SEO.

Membahas mitos-mitos ini mungkin saja memancing kontroversi dan membuat kita harus lebih luas berpikir, serta menambahkan konteks ketika berdiskusi atau mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan.

Dibawakan oleh Gary Illyes (Google Search Advocate), dalam sesi ini dibahas dan diluruskan beberapa mitos-mitos SEO yang sering kita dengar.

Simak rangkumannya di sini!

Apakah ada batas minimal/maksimal jumlah kata di konten agar bisa ranking di hasil pencarian Google?

Tidak.

Google menyarankan alih-alih menjadikan jumlah kata sebagai tolak ukur, lebih baik memastikan apakah konten yang kita tulis benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan apa yang dicari oleh pengguna.

Google punya framework untuk membuat konten yang bermanfaat dan terpercaya, dibuat untuk membantu orang lain, dan bukan semata-mata untuk ranking di hasil pencarian Google. Hal ini tertuang di dokumentasi mereka Creating helpful, reliable, people-first content.

Untuk lebih memahami tentang helpful content, teman-teman bisa membaca Search Quality Raters Guidelines.

Di luar pembahasan di Search Central Live, Ahrefs juga pernah membagikan hasil analisis yang menunjukkan korelasi antara panjang konten dengan organic traffic. Namun, perlu diingat, korelasi tidak berarti sebab akibat (correlation doesn’t imply causation).

Baca Juga:   Update Algoritma Google "Link Spam" Desember 2022: Hati-hati Membeli Backlinks!

Ahrefs menyarankan untuk membuat konten ringkas yang menjawab user intent dan menjalankan best practice SEO.

Berikut tambahan dari John Mu.

https://twitter.com/JohnMu/status/1356567146894155776

Haruskah membeli backlink agar halaman kita ranking lebih baik di hasil pencarian Google?

Tidak.

Backlink itu penting. Namun, membeli backlink hanya untuk sekadar ranking dianggap spam oleh Google.

Jika melakukan link building, pastikan agar cukup relevan dan punya value baik bagi pemberi maupun penerima link.

Agak tricky untuk menentukan apakah suatu aktivitas yang berkaitan dengan link building termasuk spamming atau tidak—itulah mengapa konteks sangat penting.

Di sesi setelah acara, Gary memberikan pendapat untuk melakukan litmus test apakah suatu aktivitas link building melanggar policy dari Google atau tidak lewat pendekatan yang sama dengan yang tertulis di dokumentasi Google tentang helpful content, yaitu melakukan self assessment dan bertanya pada diri sendiri apakah aktivitas yang dilakukan ini spam atau tidak.

Jika teman-teman tidak yakin apakah suatu aktivitas link building termasuk spam atau tidak, besar kemungkinan aktivitas link building tersebut termasuk spam.

Teman-teman bisa cek dokumentasi Google tentang Link spam.

Subdomain vs subdirectory, mana yang lebih bagus untuk SEO?

Google tidak peduli, dalam artian tidak ada keistimewaan tertentu yang diperoleh oleh satu satu pendekatan ini—keduanya sama saja.

Google menyarankan alih-alih percaya mitos, lebih baik menentukan pendekatan yang paling memungkinkan untuk dilakukan dari sisi manajemen dan bisnis.

Beberapa orang lebih mudah untuk memanajemen website dengan subdirectory, beberapa yang lain mungkin tidak demikian.

Jadi, it depends. Pilih yang lebih manageable.

Apakah aman membiarkan low quality link yang mengarah ke website kita?

Aman.

Google paham mana link yang low quality, toxic, spam, dll. Jadi, lebih baik untuk memfokuskan diri ke hal-hal lain seperti memenuhi search intent. Namun, Google juga masih membuka akses untuk melakukan disavow terhadap link semacam ini.

Baca Juga:   Top-Level Domain (TLD): Signifikansinya Terhadap SEO & Tips Memilihnya

Ini boleh dilakukan, dan disarankan untuk melakukannya jika dengan ini teman-teman merasa jadi lebih punya kontrol terhadap link yang datang ke website teman-teman.

Case dari Ahrefs juga jadi salah satu bukti bahwa Google paham mana backlink yang berkualitas dan tidak. Teman-teman bisa cek lebih lanjut video penjelasan Tim Soulo mengenai hal ini.

Apakah semua gambar yang ada di halaman website kita harus ditambahkan alternative text?

Tidak.

Harus dicek tujuan menambahkan alt text ini. Apakah teman-teman ingin muncul di hasil pencarian gambar, meningkatkan accessibility, dsb.

Make sense untuk menambahkan alt text pada gambar yang penting dan dirasa bermanfaat jika berhasil mendapat ranking tinggi di hasil pencarian Google. Namun, menambahkan alt text ke semua gambar yang ada di halaman website kita (termasuk ikon navigasi, favicon, dll.) hanya akan membantu accessibility dan tidak lebih dari itu.

Google menggunakan computer vision dan konten di sekitar gambar untuk memahami konteks dan fungsi dari gambar yang ada di halaman website.

Itulah mengapa penting untuk memerhatikan hal lain selain alt text ketika mengoptimasi gambar di halaman website teman-teman.

Cek Google image SEO best practices untuk informasi lebih lanjut.

Apakah menggunakan ccTLD untuk setiap negara target lebih baik?

Benar. Namun, perlu diperhatikan apakah hal ini make sense dari sisi bisnis—dan paling penting adalah relevansi terhadap local user.

Selain menggunakan ccTLD, teman-teman juga bisa menggunakan hreflang dan menarget bahasa dan negara lain.

Pendekatannya sama seperti subdomain vs subdirectory, lakukan mana yang lebih manageable dan memungkinkan dari sisi bisnis.

Apakah benar semakin tua umur domain, semakin baik?

Tidak.

Ada sangat banyak faktor yang memengaruhi performa website kita di hasil pencarian Google dan menyatakan bahwa umur domain mempermudah hal ini rasanya kurang tepat.

Sebenarnya hal ini sudah dijawab dengan sangat jelas oleh Matt Cutts kurang lebih 13 tahun lalu di salah satu video di YouTube Google Search Central.

Baca Juga:   Domain Murah & Gratis Kurang Bagus untuk SEO: Sitemap/Peta Situs Tidak Bisa Diakses Google

“The fact is it’s mostly the quality of your content and the sort of links that you get as a result of the quality of your content that determines how well you’re going to rank in the search engines.”

Matt Cutts (ex Head of the Webspam Team Google)

Perhatikan bahwa link yang dimaksud di sini adalah link dari hasil konten berkualitas yang kita buat.

Dan lagi-lagi John Mu juga menyatakan hal yang sama.

https://twitter.com/JohnMu/status/1147051694280388608

Apakah menggunakan keyword rich domain bermanfaat dan membantu ranking lebih mudah?

Tidak.

Keyword rich domain terlalu sering diasosiasikan oleh spammer—dan iya, kebanyakan spammer menggunakan domain semacam ini.

Keyword rich domain dirasa kurang relevan untuk branding dan long-term.

Selain itu, menggunakan keyword rich domain juga berarti website tersebut selalu berkompetisi karena tidak punya brand keyword sendiri.

Alih-alih menggunakan keyword rich domain seperti jualsepatubasketmurah.com, lebih baik teman-teman membangun brand sendiri dan menggunakan nama brand sebagai domain.


Demikian sedikit rangkuman tentang mitos-mitos SEO yang dibahas di Search Central Live Jakarta 2023.

Catatan dari DailySEO ID adalah pastikan teman-teman take everything with a grain of salt!

Silakan tulis di kolom komentar jika ingin menyampaikan tambahan, pendapat, maupun berdiskusi.

DailySEO ID juga punya pelatihan dan live course yang bisa diikuti untuk memantapkan fundamental dan belajar lebih banyak tentang SEO di SEO Fundamental Course.

Buat teman-teman yang lebih memilih untuk menonton video webinar, bisa langsung cek recording dari webinar series DailySEO ID.

Untuk diskusi lebih lanjut mengenai end-to-end SEO, teman-teman bisa bergabung ke Telegram DailySEO ID.

Dapatkan berita terbaru seputar SEO Gratis!
Subscribe Sekarang!

Author

SEO Strategist at Epicareer, Contributor at DailySEO ID | I'm an SEO geek. AMA about anything related SEO, I'd be glad to help.

Write A Comment