Thin content (konten “tipis”), sebuah istilah yang cukup sering disalah-pahami dan kurang diperhatikan di SEO.

Mengapa demikian? Pasalnya, banyak dari kita sering menganggap bahwa Thin Content adalah konten yang memiliki jumlah kata dan kalimat yang sedikit.

Padahal, lebih daripada itu.

Nah, kali ini saya akan mencoba menjelaskan istilah thin content ini secara rinci dan mencoba untuk membuatnya mudah dipahami oleh teman-teman, jadi baca hingga selesai ya!

Apa itu Thin Content?

Thin content adalah halaman web yang memiliki konten yang kurang atau sama sekali tidak otentik dan tidak bermanfaat untuk user (pengguna).

Halaman-halaman ini mungkin saja memiliki jumlah kata yang banyak (sangat banyak), namun sayangnya tidak memberikan value (nilai) tambah yang berarti bagi user, dalam kata lain, kontennya “jelek”.

Google sangat tidak menyukai konten yang tidak memiliki value bagi pengguna.

Jika mereka menyajikan konten yang jelek tersebut, maka “migrasi” pengguna search engine Google ke search engine lain mungkin saja terjadi, dan hal itu tentu tidak diinginkan oleh mereka.

Ciri dan Contoh Thin Content

Pembahasan Konten yang Kurang Dalam

Indikator paling mencolok dari thin content adalah kurangnya kedalaman pembahasan konten atau benefit yang diberikannya.

Jika teman-teman membuat konten berdasarkan keyword (kata kunci), maka Anda perlu membahas setiap aspek keyword tersebut ke dalam konten Anda.

Baca Juga:   Membangun Ekosistem Website yang Saling Terikat dengan Topic Clustering

Jika Anda hanya menulis secara singkat, kemungkinan besar konten tersebut tidak akan  memberikan value yang cukup kepada user Anda.

Adanya Duplicate Content

Contoh lain dari thin content adalah duplicate content.

Jika teman-teman menggunakan konten yang sama persis atau secara berulang di postingan blog atau halaman situs web yang berbeda, maka hal itu bisa berdampak negatif terhadap aktivitas SEO Anda.

Hal ini dapat terjadi ketika Anda memiliki beberapa postingan blog yang membahas keyword atau topik yang serupa dengan value yang sama pula (tidak ada “wow” faktornya).

Automatically Generated Content (AGC)

Automatically Generated Content (Konten yang Dibuat Secara Otomatis) adalah konten yang dibuat secara otomatis dan terprogram.

AGC sering digunakan untuk menghemat waktu dan biaya, namun sayangnya konten yang dibuat cenderung tidak bermanfaat bagi user, terlalu kaku, tidak enak dibaca, bahkan susunan kata dan kalimatnya tidak nyambung.

Doorway Pages (Halaman Pintu Masuk)

Doorway page adalah halaman web yang dibuat untuk manipulasi pengindeksan search engine (spamdexing) dengan sengaja.

Doorway page berusaha memengaruhi indeks search engine dengan menampilkan hasil tertentu untuk frase tertentu lalu me-redirect user ke halaman lain.

Teknik ini dilakukan tanpa sepengetahuan user dengan menggunakan beberapa bentuk cloaking.

Teknik ini sangat dilarang dan termasuk dalam Black Hat SEO.

Terlalu Banyak Menampilkan Iklan

Agar dapat memberikan value kepada user, konten yang teman-teman buat harus dapat dengan mudah dibaca dan tentunya bermanfaat bagi mereka.

Nah, ketika website Anda dipenuhi dengan iklan, pop-up, CTA (Call to Action), dan yang semisalnya, maka sebenarnya Anda tidak memberikan value apapun kepada mereka.

Sebaliknya, konten tersebut mungkin akan diingat sebagai konten spam dan menyebabkan bounce rate yang sangat tinggi.

Baca Juga:   Pahami Resiko Ini Jika Terlalu Mengandalkan Tools SEO untuk Menulis

Taxonomy Kategori yang Buruk

Penerapan taxonomy dengan pembuatan kategori adalah bagian yang penting dari sebuah content plan (perencanaan konten).

Namun, jika website Anda memiliki kategori yang tidak terstruktur, contohnya: memiliki ratusan tag dan kategori secara asal.

Hal ini tentu akan merusak kualitas website Anda di search engine dan juga dapat membuat URL Anda menjadi kompleks serta tidak terkontrol.

Apakah Thin Content Berdampak Negatif Pada SEO?

Seperti yang sudah disebutkan pada sesi contoh thin content. Berikut merupakan hal-hal terkait thin content yang kemungkinan besar akan memberikan dampak negatif terhadap SEO:

  • Autogenerated content (AGC).
  • Doorway pages.
  • Scraped content.
  • Thin affiliate sites.

Bagaimana Cara Mengidentifikasi Thin Content?

Lakukan Site Audit

Lakukanlah site audit menggunakan SEO tools seperti Ahrefs dan Semrush.

Cek apakah terdapat notifikasi (Error, Warning, Notice), kemudian perbaiki sesuai apa yang disarankan oleh tool tersebut.

Baca Konten yang Pernah Dibuat

Cobalah untuk membaca konten artikel yang ada pada website teman-teman.

Posisikan diri Anda sebagai user yang ingin mendapatkan informasi, buka konten-konten tersebut untuk melihat apakah ia sudah menjawab search queries intent atau belum.

Terdengar sulit karena kontennya sudah banyak?

Anda bisa mengajak rekan-rekan Anda untuk melakukan tugas ini bersama-sama, perlahan, dan konsisten sesuai target.

Ingat, SEO itu bukan proses yang instan!

Cek Keyword

Ketika teman-teman memiliki sejumlah konten artikel yang menargetkan keyword yang sama, hal ini berpotensi menjadi sebab content duplicate atau biasa juga disebut dengan keyword cannibalization (kanibalisasi kata kunci).

Keyword cannibalization adalah di mana konten dalam satu website saling berkompetisi satu sama lain untuk mendapatkan ranking di target keyword yang sama.

Baca Juga:   12 "Oleh-oleh" dari Konferensi SEO Ahrefs, Singapore SEO Summit 2023

Dengan melakukan pemeriksaan keyword dan memiliki strategi keyword yang tepat, Anda dapat terhindar dari permasalahan thin content ini.

Cek URL

Duplicate content adalah salah satu penyebab utama munculnya problem di SEO, jadi Anda perlu mengeceknya.

Cobalah untuk melakukan pengecekan URL untuk menemukan halaman yang terlihat serupa atau terlalu mirip, dan jangan lupa membacanya untuk memastikan apakah pembahasannya mirip atau tidak.

Bagaimana Cara Memperbaiki Thin Content?

Setidaknya ada empat cara yang bisa teman-teman lakukan, yaitu:

  1. Tulis ulang jika konten dirasa terlalu mirip dengan konten lainnya.
  2. Lakukan enrichment konten jika dirasa kurang lengkap atau dalam pembahasannya.
  3. Kombinasikan dua buah atau lebih konten yang Anda rasa berkaitan dan intent-nya sama.
  4. Terakhir, jika ketiga cara di atas tidak bisa dilakukan adalah dengan menghapus salah satu konten tersebut.

Demikian artikel Thin Content ini, jika Anda memiliki pertanyaan silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini. Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar mulai dari Rp. 50 ribu saja di webinar DailySEO ID!

Sumber:

https://ahrefs.com/seo/glossary/thin-content

https://yoast.com/what-is-thin-content/

https://rockcontent.com/blog/thin-content/

Dapatkan berita terbaru seputar SEO Gratis!
Subscribe Sekarang!

Author

Touched SEO in 2014 and dive more deeply in 2019. Currently working at Farmaku & DokterSehat as an SEO Specialist. Let's connect!

2 Comments

Write A Comment