Google mengatakan bahwa konten yang dibuat otomatis dengan software AI (artificial intelligence) melanggar pedoman Google, dan akan dianggap spam.

Hal ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: jika konten AI (yang umumnya punya kualitas keterbacaan yang baik) saja dianggap spam, apa kabarnya kualitas konten hasil software scrape, translate, spin, lalu auto-posting ke banyak blog?

Topik ini dibahas selama acara Google Search Central SEO office-hours di YouTube, sebagai tanggapan dari pertanyaan mengenai GPT-3 AI writing tools. Ada perdebatan di komunitas SEO tentang penggunaan GPT-3 tools dan apakah tool ini dapat dibenarkan dari sudut pandang Google.

GPT-3 sendiri adalah sebuah model artificial intelligence yang menggunakan machine learning untuk menghasilkan teks seperti manusia. Dengan kata lain, GPT-3 adalah komputer yang bisa menulis tulisan sama bagusnya seperti tulisan manusia.

John mengatakan konten yang ditulis oleh AI termasuk ke dalam konten yang dibuat otomatis (auto-generated content a.k.a AGC), yang pastinya dapat menyebabkan penalti.

Namun, sistem Google mungkin memiliki keterbatasan dalam mendeteksi AI generated content ini tanpa bantuan dari ulasan manusia.

Seperti yang akan penulis tuliskan di artikel ini, ada “kepraktisan” yang dihadirkan oleh AI generated content tool ini dan banyak organisasi terkemuka menggunakannya tanpa kendala.

Tapi sebelum itu, mari kita lihat respon dari John Mueller terhadap pertanyaan mengenai cara Google menganggap AI content tool ini.

Baca juga: Tips Menulis Judul Artikel yang Menarik untuk Diklik User

Automatically Generated Content Jelas Melanggar Pedoman Webmaster Google

Terlepas dari tool apa yang digunakan, yang jelas konten yang ditulis oleh mesin akan dianggap dibuat secara otomatis.

Baca Juga:   9 Tips Menulis Judul Artikel yang Menarik untuk Diklik User

Seperti pernyataan John Mueller di bawah terkait posisi Google terhadap AGC (Auto Generated Content):

“Bagi kami (Google), pada dasarnya, (AI content tool) masih termasuk ke dalam kategori automatically generated content yang merupakan topik yang sudah kami miliki di Webmaster Guidelines sedari awal.

Banyak orang yang menghasilkan automatically generated content dengan berbagai cara. Bagi kami, jika Anda menggunakan machine learning tools untuk menghasilkan konten, itu pada dasarnya sama saja seperti saat Anda mengacak kata-kata, mencari sinonimnya, atau melakukan trik terjemahan yang biasa dilakukan orang-orang.

Tebakan saya mungkin kualitas konten akan sedikit lebih baik daripada menggunakan tools jadul yang sudah ada sebelumnya, namun bagi kami itu masih merupakan automatically generated content, dan itu berarti Anda melanggar Pedoman Webmaster. Sehingga kami akan menganggap itu sebagai spam.”

John Mueller

Baca juga: Apa itu Artikel SEO? Bagaimana Cara Menulis Artikel yang SEO Friendly?

Bisakah Google Mendeteksi AI Generated Content?

Bisakah Google memahami perbedaan antara konten yang ditulis oleh manusia dan konten yang dibuat oleh mesin?

John Mueller tidak menjelaskan secara pasti mengenai Google dapat mengenali konten yang dibuat oleh mesin secara otomatis.

Namun, apabila tim webspam Google kebetulan menemukannya, maka mereka berwenang untuk mengambil tindakan terhadap konten tersebut.

“Saya tidak bisa mengklaim hal itu. Tetapi bagi kami, jika kami melihat sebuah konten dihasilkan secara otomatis, maka tim webspam pasti dapat mengambil tindakan terhadapnya.

Dan saya tidak tahu bagaimana perkembangannya di masa depan, tetapi saya membayangkan seperti teknologi lainnya, akan ada sedikit permainan kucing dan tikus, di mana terkadang orang melakukan sesuatu dan mereka lolos, dan kemudian tim webspam mencarinya dan memecahkan masalah tersebut dalam skala yang lebih luas.

Berdasarkan rekomendasi kami, kami masih menganggap hal itu sebagai automatically generated content. Saya pikir seiring berjalannya waktu mungkin hal ini akan menjadi lebih dari sekedar sebuah tool untuk orang-orang. Seperti misalnya ketika Anda akan menggunakan mesin terjemahan sebagai dasar untuk membuat konten terjemahan untuk website, akan tetapi Anda masih melakukannya secara manual.

Dan mungkin suatu saat nanti semua AI tools ini akan berkembang menjadi tool yang membantu Anda dalam menulis lebih efisien atau untuk memastikan tulisan Anda ejaan dan tata bahasanya baik dan benar, yang dilandasi oleh machine learning. Tapi saya tidak tahu pasti akan seperti apa nantinya.”

John Mueller

John Mueller sendiri mengklarifikasi bahwa Google tidak mempertimbangkan bagaimana AI writing tool ini akan digunakan.

“Saat ini semuanya (AI writing tool) bertentangan dengan pedoman webmaster. Jadi dari sudut pandang kami, jika kami menemukan sesuatu seperti itu, jika tim webspam melihatnya, mereka akan melihatnya sebagai bentuk tindakan spam.”

John Mueller

Silakan Anda simak video selengkapnya di sini:

Baca Juga:   Apakah Bounce Rate Merupakan Faktor Ranking Google?

Baca juga: 5 Hal yang Tidak Perlu Terlalu Dikhawatirkan oleh Seorang SEO

Pendapat DailySEO ID: AI Generated Content vs Auto-Generated Content, Bagaimana Situasinya di Indonesia?

Menurut hemat redaksi DailySEO ID, Indonesia masih bisa dibilang ketinggalan dalam hal ini, belum ada software dengan teknologi AI yang bisa membuat konten dalam bahasa Indonesia.

Di Indonesia sendiri, konten secara otomatis dibuat justru bukan dengan teknologi artificial intelligence/AI, melainkan dengan teknologi yang bisa melakukan scraping (mengambil konten dari website lain), translate (menerjemahkan), spin (menulis ulang/re-write), lalu auto-posting ke banyak blog.

AGC yang ada di Indonesia bukanlah AI generated content, melainkan auto generated content. Software seperti ini ada bagi pemilik website yang tidak ingin repot-repot menulis kontennya sendiri, atau mengeluarkan uang untuk menyewa jasa penulis profesional, namun masih berharap bisa mendapatkan ranking & traffic yang tinggi di mesin pencari.

Berdasarkan observasi kami sendiri, konten AGC seperti itu punya kualitas keterbacaan yang sangat jauh dari layak. Berikut contohnya.

Tulisan asli:

Demikian lima cara yang bisa Anda lakukan untuk mengoptimasi sebuah gambar di dalam artikel supaya dapat diindeks dengan baik oleh Google.

Dalam praktik SEO, teman-teman harus melakukan berbagai macam cara untuk menaikkan traffic, termasuk optimasi image yang satu ini. Jangan hanya berhenti di optimasi konten saja. Cobalah untuk mempraktikkan optimasi image juga. Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat!

5 Tips Optimasi Gambar di SEO, Lakukan Semua Agar Google & User Happy!

Hasil spin dengan menggunakan salah satu software spinner gratis, silakan nilai sendiri kualitasnya:

Demikian 5 metode yang dapat Kamu jalani buat mengoptimasi suatu foto di dalam postingan biar bisa diindeks dengan baik oleh Google.

Dalam aplikasi SEO, sahabat wajib melaksanakan bermacam berbagai metode buat menaikkan traffic, tercantum optimasi image yang satu ini. Jangan cuma menyudahi di optimasi konten saja. Cobalah buat mempraktikkan optimasi image pula. Selamat berupaya, serta mudah- mudahan berguna!

Seperti ditulis di bagian awal, Google mungkin belum bisa membedakan konten berbahasa Inggris buatan AI vs buatan manusia (karena saking miripnya).

Baca Juga:   5 Tips Optimasi Gambar di SEO, Lakukan Semua Agar Google & User Happy!

Akan tetapi secara logika, melihat kualitas konten AGC yang seperti itu, algoritma Google harusnya sudah bisa mendeteksi mana konten yang bermanfaat buat manusia dan mana konten yang spam.

Jadi, apakah cara AGC merupakan cara yang tepat untuk membuat konten bagi website kita?

Mari bersama-sama membangun industri SEO di Indonesia yang sehat tanpa trik spammy, dan silakan ajukan pertanyaan seputar SEO dan Digital Marketing di grup Telegram DailySEO ID, yuk gabung di sini!

Sumber:

https://www.searchenginejournal.com/google-says-ai-generated-content-is-against-guidelines/444916/

Author

SEO Learner | Jr. SEO Specialist at Farmaku & DokterSehat | SEO Freelancer | First time meet SEO in 2014 and diving more deeply in 2019.

Write A Comment