Studi kasus SEO selalu menarik perhatian para praktisi SEO, pasalnya dari studi kasus tersebut menyajikan temuan yang bisa diuji kembali melalui A/B testing.

Baru-baru ini, Zyppy merilis sebuah studi kasus yang cukup menarik dengan judul “Situs yang menerapkan SEO yang baik malah justru kena hukuman dari Google“, studi ini mengajak kita untuk mendalami risiko yang mungkin terjadi saat optimasi SEO dilakukan secara berlebihan.

Studi kasus ini membuka diskusi penting tentang bagaimana praktisi SEO dapat mengidentifikasi dan menghindari praktik yang berpotensi membawa dampak negatif.

Bagaimana penjelasan dari studi kasus tersebut? Apa yang kita pelajari sebagai praktisi SEO? Simak artikel ini sampai selesai ya.

Metode Studi Kasus yang Dilakukan Zyppy

Dalam studi kasus terbaru ini, metodenya terfokus pada analisis mendalam terhadap 50 situs web yang terkena dampak dari pembaruan algoritma Google yang dikenal sebagai “Helpful Content Update“.

Menurut Google, definisi dari helpful content adalah konten yang dapat dipertanggungjawabkan (reliable) dan berguna untuk user, sertamemberikan nilai yang signifikan bagi pengguna, bukan sekadar dikembangkan untuk menduduki peringkat teratas di halaman hasil pencarian (SERP).

“Batasan” dari Studi Kasus

Salah satu batasan utama dari studi kasus ini adalah jumlah sampel yang terbatas—hanya 50 situs.

Hal ini bisa mempengaruhi generalisasi temuan, karena tidak mencakup variasi yang lebih luas dari jenis situs atau industri tertentu.

Baca Juga:   Google Search Console Meluncurkan Page Experience Report untuk Halaman Versi Desktop

Limitasi ini penting untuk diperhatikan saat menginterpretasikan hasil dan mengaplikasikan temuan dalam strategi SEO yang lebih luas.

Insights Menarik dari Studi Kasus Zyppy

#1 Situs yang Terdampak Negatif Memiliki Variasi Anchor Text lebih Banyak

Dari studi kasus ini, salah satu insight yang menarik adalah pengaruh variasi anchor-text terhadap dampak SEO.

Situs yang terdampak negatif teridentifikasi memiliki variasi anchor-text yang lebih banyak dalam link mereka.

Sebagai contoh, penggunaan kata-kata seperti “daging,” “daging merah,” dan “daging putih” sebagai anchor text untuk link yang mengarah ke halaman yang sama menunjukkan variasi yang signifikan.

Meskipun ini mungkin terlihat sebagai praktik yang baik untuk memberikan konteks yang lebih luas dan meningkatkan relevansi SEO, studi ini mengindikasikan bahwa terlalu banyak variasi seperti ini bisa membingungkan algoritma pencarian dan berpotensi dianggap sebagai upaya manipulatif, yang justru berakibat negatif.

#2 Situs yang Jarang Refresh Konten Mendapatkan Dampak Positif

Fakta lain yang mengejutkan dari studi ini adalah bahwa situs-situs yang jarang melakukan refresh atau pembaruan konten justru mengalami dampak positif dari pembaruan algoritma terkini.

Ternyata, praktik umum dalam SEO yang sering dianggap menguntungkan, seperti memperbarui tanggal post untuk menciptakan kesan konten yang selalu baru, tidak selalu memberikan keuntungan SEO.

Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa URL pada situs yang mendapatkan dampak positif memiliki rata-rata usia konten sekitar 774 hari, atau sekitar dua tahun.

Lebih menarik lagi, sebanyak 35% dari URL di situs-situs yang berdampak positif tidak menampilkan tanggal post pada URL mereka sama sekali, menandakan bahwa tanggal tidak selalu menjadi faktor penentu dalam kinerja SEO.

Hal ini menyoroti pentingnya konten yang benar-benar berkualitas dan relevan dibandingkan dengan sekadar trik untuk membuat konten tampak baru.

Jadi, jika Anda menggunakan taktik seperti mengubah tanggal post pada URL tanpa mengubah substansi konten secara signifikan, mungkin sudah saatnya untuk meninggalkan praktik tersebut dan fokus pada peningkatan kualitas konten yang sebenarnya.

Baca Juga:   Mau Pakai Jasa Backlink yang "Katanya" Berkualitas? Perhatikan Hal Ini Dulu!

#3 Judul Post Berupa Listicle Berasosiasi dengan Situs yang Terdampak secara Negatif

Salah satu temuan yang menarik dari studi ini adalah asosiasi negatif antara judul post yang berformat listicle atau mengandung angka dan dampak SEO negatif.

Meskipun artikel listicle sering digunakan untuk meningkatkan jumlah klik atau CTR, studi ini menunjukkan bahwa judul-judul seperti ini mungkin mendapatkan dampak negatif dari pembaruan “Helpful Content Update“, khususnya jika digunakan sebagai clickbait.

Studi tersebut menunjukkan bahwa situs yang menggunakan taktik clickbait cenderung mengalami penurunan dalam performa SEO.

#4 Situs yang Menerapkan Structured Data lebih Banyak Terdampak secara Negatif

Structured data telah dikenal sebagai salah satu elemen yang penting dalam optimasi SEO.

Namun, menurut temuan terbaru, situs yang mengalami dampak negatif cenderung menggunakan structured data secara berlebihan.

Studi tersebut menemukan bahwa situs-situs yang terdampak negatif seringkali memasukkan berbagai tipe structured data ke dalam HTML mereka, yang mungkin menandakan upaya manipulasi yang berlebihan untuk memengaruhi peringkat mesin pencari.

Meskipun structured data penting, praktisi SEO disarankan untuk menggunakan strategi ini secara bijak dan tidak berlebihan, menjaga agar penggunaan data terstruktur tetap relevan dan sesuai konteks.

Apa yang Kita bisa Pelajari dari Studi Kasus Ini?

Dari studi kasus tersebut, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting yang dapat membimbing praktik SEO kita ke arah yang lebih efektif dan etis:

  • Apa pun yang berlebihan itu tidak baik, termasuk optimasi
  • Sebaiknya kita tidak menggunakan kebohongan seperti mengubah tanggal post untuk membuat konten (hanya terlihat) fresh
  • Jangan membuat judul yang clickbait. Memakai angka dan power words justru sangat disarankan, namun isi tidak boleh berbeda dengan judulnya
  • Keep in mind bahwa korelasi tidak sama dengan kausalitas
Baca Juga:   Google Bongkar Rahasia Algoritma Helpful Content: Ini Update Pentingnya!

Utamakan pengguna dalam semua strategi optimasi yang Anda terapkan.

SEO yang berfokus pada pengguna cenderung lebih berkelanjutan dan efektif dalam jangka panjang.

Mari Buat Helpful Content dan Situs yang dengan Pengalaman Terbaik untuk User!

Dari studi kasus ini, kita dapat melihat bahwa optimasi yang berlebihan seringkali berdampak negatif.

Praktik seperti variasi anchor-text dan penggunaan structured data yang berlebihan, serta judul clickbait, bisa merugikan situs dalam jangka panjang.

Di sisi lain, terlalu sedikit optimasi juga membuat situs kurang terlihat di mesin pencari.

Terlalu berlebihan dalam optimasi, bisa terdampak negatif. Optimasi minimum, maka situs punya visibilitas yang minim juga di mesin pencari.

Dari sini kita bisa memahami bahwa “keseimbangan” bisa menjadi salah satu kunci penting dalam SEO.

Kita harus berusaha untuk menciptakan konten yang benar-benar bermanfaat bagi pengguna—konten yang informatif, dapat diandalkan, dan menarik. Selain itu, penting untuk memberikan pengalaman pengguna yang unggul di situs kita.

Dengan fokus pada kualitas dan kegunaan bagi pengguna, kita tidak hanya memenuhi standar mesin pencari tetapi juga membangun kepercayaan dan keterlibatan pengguna.

Akhir kata, yuk buat konten yang bermanfaat untuk pengguna dan situs dengan pengalaman terbaik untuk user!


Apabila teman-teman ingin diskusi lebih lanjut mengenai studi kasus ini, Anda bisa langsung bergabung ke grup Telegram DailySEO dan tanyakan hal-hal yang membuat Anda penasaran.

Selain itu, jika Anda berniat untuk belajar lagi mengenai SEO atau baru belajar SEO, teman-teman bisa langsung mengikuti course DailySEO! Materi akan dibawakan langsung oleh founder DailySEO, Ilman Akbar.

Referensi:

https://zyppy.com/seo/google-updates-punish-good-seo/https://x.com/gofishchris/status/1803156834653454380

Dapatkan berita terbaru seputar SEO Gratis!
Subscribe Sekarang!

Author

SEO Specialist at sirka.io and currently developing farisyudza.com. I started diving into SEO in early 2022 and eager to learn more!

1 Comment

  1. Ketika bikin web baru agar tidak berdampak negatif, perlu berapa lama untuk tidak dioptimasi ya mas?

Write A Comment