Google setuju jika konten buatan AI harus ditinjau manual oleh manusia.

Sehingga teman-teman harus menghindari memublikasikan konten artikel secara langsung tanpa melakukan peninjauan agar informasinya tepat dan akurat.

Dan yang paling penting adalah benar-benar bermanfaat bagi audiens!

Apa itu AI-Generated Content (Konten Buatan AI)?

infografik ai generated content

AI-generated content (konten hasil buatan AI) adalah segala konten seperti teks, gambar, atau video yang dibuat oleh AI (Artificial Intelligence).

AI-generated content dibuat berdasarkan prompt (instruksi) yang dimasukkan oleh manusia sebagai operatornya.

Biasanya setelah konten jadi, konten tersebut akan dipublikasikan ke dalam website hingga media sosial, atau bisa juga dipublikasi secara offline (luring).

Model AI Overview dan AI Mode

Gary Illyes dari Google mengonfirmasi jika AI content itu boleh-boleh saja selama kualitasnya terjaga.

Beliau mengatakan bahwa “human created (buatan manusia)” bukanlah deskripsi tepat mengenai AI content policy, melainkan lebih ke “human curated (dikurasi manusia)”

Terdapat diskusi yang dilakukan oleh Kenichi Suzuki dan Gary Illyes.

Kenichi Suzuki bertanya mengenai model AI yang digunakan pada AI Overview dan AI Mode, dan inilah jawaban dari Gary Illyes:

Seperti yang Anda sampaikan, model yang kami gunakan untuk AIO (AI Overviews) dan AI Mode adalah model custom Gemini yang mungkin dilatih dengan cara berbeda. Saya tidak tahu detail tepatnya, bagaimana ia dilatih, tapi ia benar-benar custom model yang berbeda.

Lalu Kenichi Suzuki kembali bertanya jika AIO dan AI Mode menggunakan separate index (indeks terpisah) sebagai grounding (pelatihan dasar).

Grounding adalah ketika LLM (Large Language Models) terkoneksi dengan jawaban-jawaban pada database atau search index (indeks pencarian) sehingga jawaban menjadi lebih dapat dipercaya, jujur, dan berdasarkan variabel fakta-fakta yang membantu menghilangkan halusinasi.

Dalam konteks AIO dan AI Mode, grounding umumnya terjadi dengan data berbasis web dari Google index.

Kenichi Suzuki bertanya:

Jadi, apakah maksudnya bahwa AI Overviews dan AI Mode menggunakan indeks terpisah untuk grounding?

Gary Illyes menjawab:

Sejauh yang saya tahu, Gemini, AI Overview dan AI Mode menggunakan Google Search untuk grounding. Jadi pada dasarnya mereka mengeluarkan beberapa kueri untuk Google Search dan kemudian Google Search memberikan hasil untuk kueri-kueri tersebut.

Kenichi Suzuki lanjut bertanya: 

Apakah itu artinya data pelatihan yang digunakan AIO dan AI Mode diambil dari Google secara umum dan bukan dari Google Extended?

Dan inilah jawaban Gary:

Anda harus ingat bahwa ketika grounding terjadi, tidak ada AI yang terlibat. Jadi pada dasarnya itu adalah hasil yang dipengaruhi oleh Google Extended. Tetapi juga jika Anda melarang Google Extended, maka Gemini tidak akan melakukan grounding pada situs Anda.

Konten AI pada LLM dan Indeks Pencarian

Pertanyaan lanjutan yang Gary Illyes jawab adalah terkait AI content yang dipublikasikan secara online berpotensi mencemari LLMs.

Baca Juga:  7 KPI SEO di Era AI, Mulai Fokus ke Generative AI!

Gary Illyes mengatakan bahwa itu bukanlah masalah untuk search index, tapi mungkin menjadi masalah untuk LLMs.

Kenichi Suzuki bertanya:

Semakin banyak konten yang dibuat oleh AI, dan LLMs belajar dari konten tersebut.

Apa tanggapan Anda terkait tren ini dan apakah potensial dampak negatifnya?

Garry menjawab:

Saya tak khawatir dengan search index, namun model pelatihan seharusnya perlu mencari solusi untuk tidak menyertakan konten yang dibuat oleh AI.

Jika tidak, Anda akan berakhir di pelatihan berulang yang mana tidak baik untuk pelatihan itu sendiri. Saya kurang yakin seberapa besar potensi masalah ini sekarang, atau mungkin karena bagaimana cara kami memilih dokumen yang sedang kami latih.

Kualitas Konten dan Konten Hasil Buatan AI

Kenichi Suzuki melanjutkan dengan pertanyaan di bawah ini:

Jadi Anda tidak peduli bagaimana konten dibuat… selama kontennya berkualitas tinggi?

Gary Illyes mengonfirmasi bahwa pertimbangan utama untuk data pelatihan LLM adalah kualitas konten, terlepas bagaimana ia dibuat.

Gary Illyes secara khusus menekankan akurasi faktual konten sebagai faktor penting.

Faktor lainnya adalah problematika kemiripan konten, ia menegaskan dengan lantang konten yang mirip seharusnya tidak ada di search index.

Gary Illyes juga mengatakan bahwa Google secara garis besar tidak peduli tentang bagaimana konten dibuat, namun dengan beberapa peringatan.

Tentu, tapi jika Anda bisa menjaga kualitas konten dan tingkat akurasinya dan memastikan kontennya berkualitas tinggi, maka secara teknis itu (membuat konten dari AI) bukan masalah.

Masalah datang ketika konten dibuat sangat mirip dengan konten yang telah ada sebelumnya, yang mana kami berharap tidak memilikinya di indeks kami untuk data pelatihan atau yang lainnya.

Dan masalah kedua adalah ketika Anda melatih dengan data yang tidak akurat, dan itu mungkin menjadi lebih berisiko, karena Anda mulai memperkenalkan bias dan mereka mulai memperkenalkan data kontrafaktual di model Anda.

Jadi, selama kontennya berkualitas tinggi, yang sekarang mengharuskan manusia untuk melakukan peninjauan konten hasil AI, ini tidak mengapa untuk pelatihan model.

Konten Hasil Buatan AI yang Ditinjau Manusia

Gary Illyes melanjutkan tanggapannya, saat ini fokus terdapat pada AI-generated content yang ditinjau langsung oleh manusia secara manual.

Baca Juga:  Google Merilis Spam Update Juni 2026

Ia menekankan tinjauan manusia bukanlah sesuatu yang para penerbit butuhkan sebagai signal (sinyal) kualitas pada konten mereka, tapi sesuatu yang harus para penerbit lakukan sebelum mereka menerbitkan kontennya.

Sekali lagi, “ditinjau manusia” bukan berarti menambahkan kata ke dalam web page (halaman web) dinamakan konten telah ditinjau manusia, itu bukanlah sinyal yang trustworthy (dapat dipercaya), dan ini bukanlah apa yang Gary Illyes maksudkan.

Berikut adalah apa yang Gary Illyes sampaikan:

Saya tidak berpikir kami akan merubah panduan kami dalam waktu dekat mengenai apakah Anda perlu melakukan tinjauan atau tidak.

Jadi ketika kami mengatakan itu adalah “manusia”, saya pikir pernyataan “buatan manusia” adalah keliru. Pada dasarnya, konten harus ditinjau oleh manusia. Artinya ada seseorang yang melakukan editorial pada kontennya dan memvalidasi bahwa konten tersebut benar dan akurat.

Kesimpulan

Google’s policy (kebijakan Google), sebagaimana dirangkum oleh Gary Illyes di sesi tanya jawabnya, adalah bahwa konten yang dihasilkan AI aman untuk search (pencarian) dan model training (pelatihan model) jika kontennya akurat secara faktual, orisinal, dan ditinjau oleh manusia.

Dengan ini artinya penerbit harus menerapkan pengawasan editorial untuk memvalidasi keakuratan faktual konten dan memastikan bahwa konten tersebut tidak “sangat” mirip dengan konten yang sudah ada atau dibuat sebelumnya.

Pada akhir tulisan ini, yang ingin penulis ingatkan sebagai sesama penggiat di industri ini, yaitu SEO (Search Engine Optimization), adalah buatlah konten yang bermanfaat untuk manusia bukan hanya untuk menstimulasi search engine crawler atau pun bot AI.

Apalagi jika hanya mengejar keuntungan semata sampai akhirnya merugikan orang lain atau bahkan mengorbankan sisi kemanusian kita.

Kita harus memahami siapa audiens kita, apa yang mereka butuhkan, dan di mana mereka mencarinya. Di situlah kita berusaha untuk hadir memberikan apa yang mereka butuhkan dengan cara yang baik dan tepat.

Berikanlah manfaat ke sesama, niscaya tujuan Anda akan mengikuti (datang).

Demikianlah tulisan mengenai Google menyetujui jika konten hasil buatan AI harus ditinjau manual oleh manusia ini, jika Anda memiliki pertanyaan silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

References:

https://www.searchenginejournal.com/google-says-ai-generated-content-should-be-human-reviewed/553486

Author

I began my SEO journey in 2017 and deepened my expertise in 2019. Since then, I’ve managed SEO for Farmaku.com, DokterSehat.com, and Impulse Digital Agency, while also contributing to DailySEO ID. Now, as a full-time freelancer, I focus on helping B2B companies improve their search visibility and achieve their goals.

Write A Comment