Pada strategi SEO modern, persaingan untuk mendapatkan ranking (peringkat) di halaman pertama search engine (mesin pencari) semakin ketat.

Terutama untuk keyword (kata kunci) yang bersifat umum (tidak spesifik) dan memiliki volume pencarian yang tinggi.

Di sinilah long tail keyword hadir menjadi salah satu “solusi” yang bisa teman-teman gunakan untuk menjangkau audiens yang lebih spesifik dan relevan.

Long tail keyword tidak hanya membantu meningkatkan peluang tampil di SERP (Search Engine Results Page), tetapi juga berpotensi mendatangkan trafik dengan tingkat konversi yang lebih baik.

Lalu, apa sebenarnya long tail keyword, pentingkah untuk SEO, dan bagaimana cara menemukan serta mengoptimalkannya secara efektif?

Berikut ulasan lengkapnya.

Apa itu Long Tail Keyword?

Serupa dengan namanya, long tail keyword adalah suatu keyword yang panjang dan biasanya terdiri dari 3 kata atau lebih.

Keyword yang satu ini pada umumnya mempunyai tingkat kompetisi yang lebih rendah dibandingkan dengan keyword-keyword pendek seperti “belajar mobil”, “SEO on page”, “link building”, “meta description”.

Tidak hanya itu, keyword ini juga berpotensi mendapatkan conversion yang lebih tinggi, sebab, long tail keyword ditulis secara spesifik dengan tingkat persaingan yang tidak sekeras keyword umum.

Hal ini tentu akan membantu bisnis Anda semakin berkembang ke depannya, khususnya jika bisnis Anda baru saja terjun di SEO.

Teman-teman mungkin pernah berpikiran untuk menuliskan keyword yang sangat panjang saat hendak menemukan jawaban di Google.

Sebagai contoh, Anda ingin menambah keamanan ekstra untuk website WordPress.

Otomatis, Anda akan mencari keyword seperti ini, “cara mengamankan website WordPress” atau “cara mudah mengamankan website WordPress“.

Long tail keyword memang memiliki search volume yang kecil, tetapi banyak praktisi SEO yang memanfaatkannya untuk mendapatkan organic traffic dan conversion rate yang lebih berkualitas.

Manfaat Long Tail Keyword di SEO

Mengapa long tail keyword bisa menjadi salah satu opsi strategi keyword terbaik yang digunakan oleh para SEO Specialist?

Jawabannya tentu karena benefit yang ia berikan.

Sebagai gambaran teman-teman, menurut analisis Backlinko, dari 306 juta keyword, 91,8% dari semua search query atau kata yang dimasukkan user ke search engine ternyata berasal dari jenis long tail keyword.

Fakta yang menarik sekali bukan, di tengah para praktisi SEO yang gencar menargetkan short tail keyword?

Tentunya, dari data ini, kita bisa sedikit mengalihkan fokus dan mulai memikirkan untuk menggunakan long tail keyword ke dalam strategi keyword research.

Selain itu, ada berbagai keuntungan lainnya yang bisa kita dapatkan ketika memakai long tail keyword ini, antara lain:

Baca Juga:  Apakah Latent Semantic Indexing (LSI) Memengaruhi Ranking di Google Search?

1. Tingkat Persaingan yang Umumnya Lebih Rendah

Dikarenakan keyword-nya ditulis lebih spesifik, long tail keyword mempunyai tingkat persaingan yang rendah.

Dengan demikian, hal ini akan membantu teman-teman untuk bisa mendapatkan ranking yang lebih baik di SERP Google, tapi jangan lupakan sisi kualitas artikel yang Anda tulis ya!

Sebagai gambaran, di bawah ini ada dua contoh keyword yaitu:

contoh short tail
Dok. Maulana Adieb

Keyword “belajar mobil”.

long tail keyword
Dok. Maulana Adieb

Keyword “cara belajar mobil untuk pemula”.

Query “belajar mobil” di atas termasuk ke dalam short tail keyword, sedangkan “cara belajar mobil untuk pemula” masuk ke dalam long tail keyword.

Lalu bisa dibayangkan jika teman-teman menggunakan keyword “belajar mobil”.

Anda harus bersaing dengan 120 juta halaman web yang terindeks di Google. Cukup berat dan melelahkan bukan?

Lain halnya kalau teman-teman memutuskan untuk memakai keyword “cara belajar mobil untuk pemula”.

Tingkat persaingan Anda berkurang drastis, yaitu sekitar 3 juta saja.

Tidak cuma itu, keyword ini juga sangat spesifik karena ditujukan oleh para pemula yang ingin belajar mengemudikan mobil.

Cara ini adalah cara sederhana mengukur tingkat persaingan keyword berdasarkan jumlah web yang ter-index Google.

Sebagai alternatif, ada tools Keyword Difficulty Checker dari Ahrefs untuk mengetahui tingkat persaingan sebuah keyword berdasarkan kualitas & kuantitas backlink dari website yang bersaing untuk keyword tertentu.

2. Potensi Mendapatkan Conversion Rate yang Tinggi

Ketika menjalankan bisnis di era digital, indikator jumlah traffic saja tidak cukup.

Teman-teman juga harus mendapatkan tingkat conversion rate yang tinggi dari user.

Long tail keyword ini dapat membantu mewujudkan hal tersebut karena search intent dari keyword ini umumnya audiens sudah siap bertransaksi.

Sebagai contoh, Anda menjual suplemen untuk diet keto.

Tentu saja, apabila Anda menargetkan keyword “diet keto” saja, maka akan sulit untuk mendapatkan ranking di Google.

Lagi pula intent-nya terlalu luas, sehingga potensi konversinya kecil.

Beda cerita jika teman-teman memanfaatkan long tail keyword seperti “cara diet keto pemula”, “manfaat diet keto bagi obesitas” atau “jual suplemen diet keto halal”.

Dengan query yang spesifik dan audiens yang siap transaksi, artinya potensi Anda untuk menang di SERP dan mendapatkan leads semakin besar.

Teman-teman pasti sudah tidak asing lagi dengan Google voice search.

Yap, metode pencarian yang satu ini sangat memudahkan user karena hanya perlu berbicara saat mencari informasi di Google tanpa harus mengetikkan keyword.

Uniknya, kebanyakan orang yang memanfaatkan voice search tentu akan menyebutkan kata yang panjang. 

Sebagai contoh, ketika user ingin mencari restoran terdekat, pasti ia akan berbicara seperti ini

“Halo Google, apa restoran Jepang terbaik yang dekat dari sini?” atau “Halo Google, bagaimana cara mencuci baju?”

Faktanya, voice search ini sudah banyak digunakan.

Menurut Search Engine Journal, ada sekitar 55% generasi milenial yang menggunakan voice search untuk kebutuhan sehari-hari.

Tips Mengoptimalkan Long Tail Keyword

Bagaimana caranya agar long tail keyword ini tidak sia-sia? Berikut strategi yang bisa teman-teman gunakan:

Baca Juga:  6 Tips Optimasi Keyword yang Bisa Meningkatkan Visibilitas Website Anda!

1. Menetapkan Tujuan Kontennya

Sebelum membuat konten dan melakukan keyword research untuk long tail keyword, ada baiknya teman-teman tentukan dulu tujuannya apa.

Apakah Anda ingin meningkatkan brand awareness, menargetkan konversi dari customer potential, ataupun memberikan edukasi kepada user.

Anda akan lebih mudah untuk menentukan target keyword setelah menentukan tujuan utama,

Misalnya, untuk tujuan brand awareness, teman-teman bisa membuat banyak konten informational yang menargetkan long tail keyword.

Karena volume & potensi traffic dari masing-masing target relatif kecil, maka sebagai kompensasinya, konten perlu dibuat banyak dan in-depth.

Atau membuat sedikit konten yang menargetkan short tail keyword dengan volume & potensi traffic yang lebih tinggi (dengan usaha yang lebih keras untuk bersaing di SERP).

2. Lakukan Keyword Research

Setelah tahu tujuannya apa, kini saatnya Anda mulai melakukan keyword research untuk menemukan long tail keyword.

Ada banyak sekali tools yang bisa digunakan, mulai dari Ahrefs, SEMrush, hingga Google Keyword Planner.

Tentukan keyword yang sesuai dengan search intent untuk mendapatkan traffic yang optimal.

Anda juga bisa mencari long tail keyword lewat Google “searches related to” (penelusuran terkait).

Biasanya terletak di bagian bawah Google search.

google searches related to screenshot
Dok. Maulana Adieb

Anda juga bisa memanfaatkan “fitur” Google Autocomplete atau Google Suggestion untuk mendapat keyword yang lebih kaya dan beraneka beragam.

long tail keyword
Dok. Maulana Adieb

3. Mulai Tulis Kontennya

Keyword sudah didapatkan, kini waktunya Anda mulai menulis konten!

Pastikan jangan sampai melakukan spam keyword di dalam kontennya, karena hal ini akan memperburuk reputasi website Anda di mata Google dan user.

Pastikan teman-teman menuliskan konten relevan yang berkualitas untuk menjawab pertanyaan user. Ingat Google E-E-A-T!

Anda bisa melakukan riset search intent yang tepat dengan mempelajari konten kompetitor yang berada di ranking teratas.

Jangan lupa tambahkan media di dalamnya supaya user tidak bosan saat membacanya, hal ini dilakukan sebagai bagian dari optimasi user experience (UX) di SEO.

Contoh Short-tail, Mid-tail, dan Long-tail Keyword

infografik long tail keyword vs mid tail vs short tail oleh apri x dailyseo id
Dok. Apri

Secara sederhana, di atas adalah contoh dari perbedaan antara shor-tail, mid-tail, dan long-tail keyword berdasarkan search volume, tingkat kompetisi, jumlah kata, hingga tingkat kejelasan search intent.

Itu dia penjelasan mengenai long tail keyword yang perlu teman-teman pahami.

Intinya, maksimalkanlah penggunaan long tail keyword ini sebaik mungkin untuk membantu mengembangkan bisnis Anda.

Lakukan dengan konsisten, sabar, bijak, dan hindari spam!

Lambat laun, usaha yang Anda lakukan akan berbuah manis, tidak hanya dari sisi SEO saja, tapi juga dari sisi hasil bisnis yang nyata.

Apabila Anda memiliki pertanyaan terkait, silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

Diperbarui oleh: Apri.

Referensi:

https://ahrefs.com/blog/long-tail-keywords/

https://backlinko.com/hub/seo/long-tail-keywords

https://www.searchenginejournal.com/keyword-research/long-tail-keywords

https://www.semrush.com/blog/how-to-choose-long-tail-keywords

Author

SEO Content Specialist, Median Digital Indonesia | Former SEO Content at Zenius, Hipwee, and Glints | SEO Enthusiast

Write A Comment