Pernahkan Anda menulis sebuah artikel yang sebetulnya bukan keahlian Anda?

Lalu, apakah Anda merasa aman dan nyaman ketika membaca artikel tentang kesehatan, keuangan, namun sebenarnya ditulis oleh orang yang bukan ahlinya?

Bahkan tulisan kesehatan yang Anda baca itu sama sekali tidak dicek oleh dokter yang sesungguhnya?

Saya yakin kita tidak akan merasa nyaman, apalagi aman, setuju?

Faktanya, tidak semua yang Anda baca di internet bisa mendatangkan manfaat untuk diri Anda.

Banyak tulisan artikel yang ditulis sembarangan, bahkan ada yang hanya mengejar keuntungan dari adsense semata. Biasanya mereka tidak peduli akan kebenaran apalagi keselamatan si pembaca.

Oleh sebab itulah, author authority (otoritas penulis) mulai mempengaruhi konten di web Anda, dan akan mengulas mitos-mitos tentang author authority ini.

Apa saja? Mari lanjutkan membaca!

Baca juga: Apakah AMP Mempengaruhi Ranking di Google Search?

Author Markup
Author Markup – Ryte.com

Membicarakan author authority di Google Search, akan sangat masuk akal bagi Google untuk menjadikan author authority sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ranking, apalagi semenjak munculnya pedoman E-A-T (Expertise, Authoritativeness, anda Trustworthiness).

Namun benarkah search engines benar-benar mempedulikan siapa yang menulis konten tersebut? Dan apakah si penulis tadi akan mempengaruhi ranking algorithms?

Baca juga: Apakah Alt Text di Image Mempengaruhi Ranking Google Search?

Bukti: Apakah Author Authority Faktor yang Mempengaruhi Ranking?

Kita mulai dengan pertanyaan yang sesuai dengan judul tulisan ini: Apakah author authority memberikan dampak positif pada ranking di Google Search?

Baca Juga:   Apakah "Code to Text Ratio" Memengaruhi Ranking di Google Search?

Singkatnya, author authority bukanlah faktor yang mempengaruhi ranking. Tapi bagaimanapun juga, ada panduan Google yang akan membantu mereka mengidentifikasi penulis untuk halaman tertentu.

Padah bulan Agustus tahun 2005, Google memasukkan Patent for Agent Rank. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut tentang paten tersebut, silahkan baca ulasan Bill Slawski di sini.

Singkatnya, Google’s patent menggunakan “digital signatures (tanda tangan digital)” untuk me-ranking konten berdasarkan nilai reputasi.

Kemudian di tanggal 20 Juni, 2011, Google mengkonfirmasi bahwa Google sudah mendukung authorship markup.

Seperti ini contoh kode nya:

author": {
"@type": "Person",
"givenName": "Apri",
"additionalName": "Opray"
}

Kode lengkapnya silahkan cek di halaman schema markup ini.

Di tahun 2014, Mark Traphagen melakukan studi terhadap “authorship adoption to show authorship adoption by authors was slow“. Dia menemukan 70% penulis tidak menyambungkan authorship yang mereka miliki dengan konten yang ditulis.

Lalu di tahun 2014, authorship markup secara resmi dihapus.

Selanjutnya di tahun 2016, Gary Illyes pada saat konferensi SMX mengatakan bahwa Google “tidak menggunakan authorship lagi”, akan tetapi mereka tetap tahu siapa penulisnya.

Timbul pertanyaan, bagaimana Google bisa tahu si penulisnya?  Jawabannya ada di video ini, Google melihat sejumlah faktor (contoh: links ke halaman profil, structured data, dan informasi terlihat lainnya) sebagai proses yang disebut reconciliation (rekonsiliasi).

Bukti menarik lainnya ketika John Mueller mengkonfirmasi bahwa Google tidak menggunakan reputasi penulis sebagai faktor ranking.

Bagaimana dengan E-A-T? Tolong dicatat, reputasi merupakan hal berbeda dari “expertise” dan “authoritativeness”.

Reputasi adalah bagaimana pengguna lainnya melihat si penulis.

Expertise dan authoritativeness adalah karakteristik yang Google gunakan untuk mengevaluasi penulis.

Akan tetapi paten terbaru menunjukkan bagaimana authorship ini berkembang. Sebagai contoh, di bulan Maret 2020, Google memasukkan paten yang disebut Author Vectors untuk mengidentifikasi penulis melalui gaya penulisan berbasis internet.

Baca Juga:   Apakah Bounce Rate Merupakan Faktor Ranking Google?

Ketika mengevaluasi paten tersebut, Bill Slawski menjabarkan author vector bekerja:

“Penulis yang berbeda bisa memiliki gaya penulisan yang berbeda, beda level expertise , dan ketertarikan pada topik yang berbeda.

Google mencoba memberitahu kita dengan paten Author Vector terbaru ini, bahwa Google mungkin dapat mengidentifikasi penulis konten tanpa label.”

Faktanya, kita semua tahu bahwa Google menjadi semakin baik dalam menentukan siapa yang mungkin jadi penulis konten yang “lolos” dengan pembaruan Quality Rater Guidelines mereka.

Namun kita tidak tahu kenapa dan bagaimana mereka menggunakan panduan tersebut untuk mendukung faktor ranking Google.

Satu hal yang kami tahu, Google merekomendasikan untuk memasukkan URL penulis ke dalam schema artikel.

Baca juga: Konten Resep Masakan: Schema Markup Resep Kini Mengharuskan Waktu yang Spesifik

Kesimpulan: Author Authority TIDAK MEMPENGARUHI RANKING

Latar belakang penulis menjadi topik yang hangat dibicarakan sejak lama. Dengan adanya Google Quality Rater Guidelines yang berkaitan dengan E-A-T, membuat author authority sedikit masuk ke area yang tidak terlalu jelas bagi praktisi SEO.

Pada intinya, walaupun author authority tidak memberikan dampak SEO secara langsung, tapi mengikuti panduan Google Quality Rater Guidelines adalah cara cerdas untuk menjaga konten artikel Anda tetap terpercaya dan berkualitas.

Sumber:

https://www.searchenginejournal.com/ranking-factors/author-authority/

Author

SEO Learner | Jr. SEO Specialist at Farmaku & DokterSehat | SEO Freelancer | First time meet SEO in 2014 and diving more deeply in 2019.

Write A Comment