Apakah teman-teman pernah mencoba mengunjungi sebuah URL, namun merasa melewati beberapa URL terlebih dahulu sebelum akhirnya halaman sesungguhnya tampil?

Nah, itulah gambaran singkat dari yang namanya redirect chain.

Mungkin terlihat sepele, tapi cukup berdampak jika dibiarkan saja untuk performa SEO website Anda.

Lalu, bagaimana solusinya? Silakan teman-teman baca artikel ini sampai selesai!

Apa itu Redirect Chain?

Secara teknis, redirect chain (rantai pengalihan) adalah urutan pengalihan URL yang melibatkan lebih dari satu “hop” atau tahapan URL-URL sebelum mencapai URL akhir.

Berikut adalah ilustrasi dari redirect chain.

redirect chain
Dok. Neil Patel

Beberapa Faktor Penyebab Terjadinya Redirect Chain

Redirect chain sering terjadi tanpa disadari, terutama di website yang sudah lama berjalan, kontennya banyak, atau struktur website-nya sering mengalami perubahan.

Berikut sejumlah penyebab paling umum terjadinya redirect chain:

Mengubah URL Tanpa Audit atau Dokumentasi

Salah satu penyebab klasik redirect chain adalah perubahan URL yang dilakukan berkali-kali.

Misalnya, halaman Jakarta awalnya diarahkan ke halaman DKI Jakarta, lalu halaman DKI Jakarta diubah lagi dan diarahkan ke halaman IKN.

Akhirnya, ketika user mengakses halaman Jakarta, browser harus melewati kedua halaman terlebih dahulu sebelum mencapai halaman IKN.

Masalah ini biasanya muncul karena tidak ada audit redirect secara berkala atau dokumentasi dari apa yang akan dan telah dikerjakan.

Tim web developer hanya menambahkan redirect baru tanpa merapikan redirect lama yang sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi.

Migrasi Website yang Tidak Rapi

Saat migrasi website (HTTP ke HTTPS, perubahan domain, atau redesign), redirect chain sangat sering muncul.

Idealnya, URL lama langsung diarahkan ke final URL.

Namun dalam praktiknya, sering terjadi skenario tak terduga seperti redirect dari HTTP ke HTTPS ke versi non-www lalu ke versi www.

Penggunaan Plugin atau CMS Automation

Ini sering terjadi pada website yang dikelola banyak orang, di mana perubahan kecil dilakukan tanpa koordinasi atau dokumentasi yang jelas.

Penulis sendiri pernah mengalaminya saat meng-handle website layanan logistik yang dokumentasi SEO-nya bisa dikatakan berantakan.

Baca Juga:  Apa Itu Tag Hreflang & Seberapa Penting untuk SEO?

Bukan hanya mengakibatkan redirect chain, tapi juga ke masalah fundamental seperti penggunaan plugin yang ganda atau lebih padahal fungsinya sama.

Di CMS seperti WordPress, plugin redirect atau plugin SEO bisa otomatis membuat redirect setiap kali slug halaman diubah.

Jika teman-teman mengedit slug beberapa kali, plugin bisa saja membuat redirect berlapis tanpa Anda sadari.

Dampak Buruk Redirect Chain bagi SEO

Berikut adalah sejumlah alasan mengapa redirect chain dapat memberikan dampak buruk terhadap performa website Anda:

Loading Halaman Menjadi Lemot

Setiap hop (lompatan) di redirect chain menambah request HTTP baru, hal ini tentu meningkatkan waktu tunggu user secara signifikan dan meningkatkan potensi dampak selanjutnya yaitu UX yang jelek.

User Experience (UX) Buruk

User sebetulnya tidak peduli soal redirect yang terjadi.

Namun mereka peduli dengan apa yang mereka rasakan yaitu: halaman lambat atau gagal dibuka.

Jika hal ini sering terjadi, maka bounce rate bisa meningkat dan engagement menurun. Sinyal-sinyal ini secara tidak langsung bisa memengaruhi performa SEO website Anda.

Dan dalam jangka panjang, redirect chain bisa “merobohkan” kepercayaan user terhadap website teman-teman.

Menurunkan Efisiensi Crawl Budget

Bot Google memiliki batas waktu ketika meng-crawl sebuah website atau halaman tertentu.

Nah, redirect chain ini membuang jatah crawling pada halaman yang tidak penting sehingga potensi halaman penting untuk di-crawl menjadi berkurang atau bahkan tidak tersentuh.

DailySEO ID pernah membahas terkait crawl budget , teman-teman bisa belajar lebih lanjut di artikel ini:

Apa itu Crawl Budget? Seberapa Penting bagi SEO, dan Bagaimana Cara Mengoptimasinya?

Link Equity Hilang

Walaupun redirect 301 dirancang untuk meneruskan link equity, tapi pada praktiknya nilai tersebut tidak selalu diteruskan 100% sepenuhnya, apalagi jika redirect-nya terjadi berlapis-lapis.

Semakin panjang redirect chain, maka semakin besar potensi kehilangan link equity.

Cara Mengidentifikasi Redirect Chain

Caranya tidak terlalu sulit jika teman-teman sudah terbiasa menggunakan bantuan tool SEO, mari kita bahas satu per satu.

Menggunakan Google Search Console (GSC)

Masuk ke akun GSC Anda, lalu cek laporan Pages di tab Indexing, di sini teman-teman bisa menemukan URL dengan status “Page with redirect”.

Dari sini, Anda bisa mengidentifikasi halaman mana yang tidak langsung menuju tujuan akhir.

Walaupun GSC tidak selalu menampilkan redirect chain secara detail, namun tool ini cukup efektif untuk menemukan URL yang patut dicurigai dan perlu dicek lebih lanjut.

Gunakan Screaming Frog

Lho ini kan berbayar?

Ya benar, namun jika website Anda tidak terlalu besar (maksimal 500 URL), cobalah untuk menggunakan Screaming Frog versi gratis.

Baca Juga:  Ini Alasan Tidak Boleh Redirect Halaman 404 ke Homepage dan Bagaimana Solusinya

Dengan tool ini, teman-teman bisa audit keseluruhan website.

Pertama-tama pastikan untuk melakukan crawling website Anda, setelah itu Anda bisa memfilter Redirect (3xx) dan melihat kolom Redirect URL serta Status Code.

Screaming Frog akan menunjukkan dengan jelas apakah sebuah URL melewati satu redirect saja atau lebih sebelum sampai ke halaman tujuan.

Tips Mengatasi Redirect Chain

Setelah redirect chain terdeteksi, langkah berikutnya adalah memperbaikinya. Prinsip utamanya sederhana: atur redirect langsung ke final URL saja.

Ubah Redirect Chain Menjadi Satu Langkah

Jika Anda menemukan pola seperti ini:

A → B → C

Maka solusi terbaiknya adalah mengubahnya menjadi A → C saja.

Ini mengurangi waktu loading, memperbaiki crawl efficiency, dan memaksimalkan link equity.

Pastikan redirect yang digunakan adalah 301 (permanent redirect) jika URL lama sudah benar-benar tidak digunakan.

Perbaiki Internal Link ke Final URL 

Sering kali, redirect chain tetap terjadi karena internal link masih mengarah ke URL yang lama.

Walaupun sudah diset redirect, sebaiknya internal link langsung menuju ke final URL.

Ini akan membantu search engine dan user mengakses halaman tanpa harus mengarungi redirect sama sekali.

Penutup

Redirect chain sering kali terlihat sepele, tapi dampaknya ke SEO tidak bisa dianggap enteng.

Dari loading halaman yang semakin lambat, crawl budget yang tidak efisien, sampai penurunan kualitas user experience, semuanya bisa berawal dari redirect yang tidak dikontrol dengan baik.

Teman-teman praktisi SEO juga perlu ingat, search engine menyukai struktur website yang clean, efisien, dan mudah dipahami.

Redirect yang berlapis justru hanya memberikan sinyal sebaliknya. Semakin panjang rantainya, semakin besar pula potensi masalah teknis yang muncul.

Kabar baiknya, redirect chain sebenarnya bukanlah masalah yang rumit untuk diatasi.

Teman-teman hanya perlu melakukan audit rutin, penggunaan tool yang tepat, dan kebiasaan mengarahkan URL lama langsung ke tujuan akhir.

Penerapan redirect memang penting, tapi harus digunakan dengan strategi, bukan sekadar solusi cepat tanpa persiapan dan tujuan.

Saat redirect dikelola dengan benar, Anda bukan hanya membantu bot crawler bekerja lebih efisien, tapi juga memberikan pengalaman terbaik untuk user yang datang ke website Anda.

Demikianlah tulisan mengenai pengertian redirect chain, dampaknya terhadap SEO website, hingga cara mengatasinya ini, jika teman-teman memiliki pertanyaan silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

Referensi:

https://developers.google.com/search/docs/crawling-indexing/site-move-with-url-changes

https://www.screamingfrog.co.uk/seo-spider/issues/response-codes/internal-redirect-loop

https://help.ahrefs.com/en/articles/79340-what-are-redirect-chains

https://neilpatel.com/blog/redirect-chain

Author

I began my SEO journey in 2017 and deepened my expertise in 2019. Since then, I’ve managed SEO for Farmaku.com, DokterSehat.com, and Impulse Digital Agency, while also contributing to DailySEO ID. Now, as a full-time freelancer, I focus on helping B2B companies improve their search visibility and achieve their goals.

Write A Comment