Hati-hati buat kamu yang sering bikin website pakai aged domain.

Kalau salah strategi, web kamu rentan kena update algoritma Google, bahkan bisa deindexed.

Sayang banget kan? Udah keluar biaya lumayan buat beli nama domain lama yang premium (yang seringkali lebih mahal dari harga domain yang normal), tapi akhirnya terbuang sia-sia.

Di artikel ini, kami akan membahas mindset yang benar sebelum memakai aged domain serta langkah praktis memilih aged domain yang sehat dan relevan, menggunakan tools bernama MostDomain.com.

Mindset yang Harus Diperbaiki

Pertama-tama, kita harus sadar: aged domain bukan shortcut SEO.

Banyak orang salah kaprah, menganggap begitu pakai aged domain, otomatis akan bisa ranking lebih cepat. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Google sekarang makin pintar mendeteksi website spam. Bahkan, di Spam Update Maret 2024, Google menambahkan kriteria baru praktik spam: expired domain abuse (penyalahgunaan domain hangus). 

Penyalahgunaan domain yang sudah tidak berlaku adalah ketika nama domain yang sudah tidak berlaku dibeli dan dialihfungsikan, terutama untuk memanipulasi peringkat penelusuran dengan meng-hosting konten yang memberikan sedikit nilai atau tidak sama sekali kepada pengguna.

Google melarang kita membuat website dengan menggunakan domain lama (baik yang sudah expired maupun masih aktif), dengan tujuan HANYA agar cepat ranking & dapat traffic dari Google, bukan untuk memberikan manfaat bagi users.

Salah satu studi kasusnya bisa dilihat di website ayovaksindinkeskdi.id, sebuah website yang awalnya dibuat oleh Dinas Kesehatan Kendari untuk kampanye vaksin COVID, tapi tidak diperpanjang. 

Domain lama yang sudah expired ini diambil dan diubah menjadi sebuah blog AdSense, dengan mindset & taktik SEO hanya untuk cepat naik ranking. 

Dalam 6 bulan, traffic-nya memang naik drastis dari 0 menjadi 20an juta sebulan (lihat gambarnya di bawah). Tapi karena ia menggunakan taktik SEO spam yang dilarang Google, website-nya rontok terkena update algoritma Google. Sekarang traffic-nya nyaris 0.

Performa traffic SEO ayovaksindinkeskdi.id yang dibuat dari aged & expired domain (data Ahrefs). Hancur sehancur-hancurnya.

Pada prinsipnya, kalau kamu bikin website asal-asalan, nggak peduli domainnya baru atau lama, potensinya sama-sama bisa kena penalti atau deindex.

Jadi mindset awalnya jelas: website harus bermanfaat untuk user. Website yang terpercaya, memiliki konten yang relevan, berkualitas, dan memberikan solusi. 

Kalau itu beres, aged domain bisa jadi fondasi yang memperkuat strategi jangka panjangmu.

Langkah Memilih Aged Domain yang Tepat

Oke, kalau mindset sudah bener, baru kita bicara soal teknis memilih aged domain.

1. Pilih Nama Domain yang Relevan dengan Niche

Ini paling penting, nama domain lama yang dibeli haruslah nyambung dengan brand, niche, serta topik website yang mau kamu bangun.

Kalau kamu bikin website kesehatan, misalnya, nggak logis kalau pakai nama domain yang punya kesan ini adalah situs otomotif. 

Relevansi itu penting buat branding ke user, yang memberikan sinyal ke Google.

Tiket.com adalah salah satu contoh sukses website yang menggunakan aged domain, salah satunya karena relevan nama dengan niche website-nya.

Berdasarkan catatan di Archive.org, domain ini sudah didaftarkan sejak tahun 2000. Setelah bertahun-tahun hanya di-parking, tahun 2011 domain ini dibeli oleh para founder Tiket.com yang ingin membuat startup di bidang penjualan tiket online. Kabarnya, harganya sangat fantastis, hingga puluhan juta rupiah.

2. Gunakan Platform yang Transparan, seperti MostDomain.com

“Bagaimana cara mencari domain lama yang sesuai dengan niche website yang akan saya buat?”

Ada platform bernama MostDomain.com yang bisa mempermudah kamu mencari nama domain, tanpa harus ribet cek manual satu per satu.

Di sini kamu bisa langsung cari aged domain berdasarkan data yang jelas.

Langkahnya gampang:

Pertama, buka MostDomain.com, lalu buka menu Domain Inventory.

Tampilan homepage Mostdomain.com
Tampilan homepage Mostdomain.com

Kedua, dari menu di sebelah kiri, filter kategori sesuai niche website yang mau dibuat. Berikutnya, tinggal lihat daftar domain yang tersedia di sebelah kanan.

Tampilan filter Category di menu Domain Inventory
Tampilan filter Category di menu Domain Inventory

3. Pilih Nama Domain yang Sesuai Budget

Aged domain biasanya lebih mahal dibandingkan dengan domain baru. Oleh karena itu, kita bisa mem-filter nama domain sesuai kemampuan budget kita.

Di platform MostDomain, kita bisa melakukan itu dengan mudah. Gunakan filter Price di sebelah kiri, tinggal masukan harga maksimal yang kita sanggup.

Tampilan filter Price di menu Domain Inventory
Tampilan filter Price di menu Domain Inventory

4. Lakukan Pemeriksaan Dasar (Quick Check)

Setelah mem-filter nama domain yang relevan dengan niche yang akan kita buat & harga yang sesuai kesanggupan (dan ini sudah sangat dipermudah oleh MostDomain), saatnya memilih domain yang akan kita beli.

Kamu bisa melihat usia domain, DA, PA, DR, dan referring domain langsung dari halaman Domain Inventory. Kalau kamu klik tombol Details, kamu bisa melihat lebih banyak lagi metrics, seperti Spam Score, Trust Flow, Citation Flow, detail registrasi, dan sebagainya. 

Tapi kalau buat saya, hal-hal itu bukanlah yang terpenting, karena itu adalah metrics pihak ketiga, bukan metrics buatan Google Search.

Bagi saya, yang penting dicek justru hal-hal berikut ini:

Pertama, cek domainnya langsung di browser → buka domainnya, lihat apakah situsnya masih aktif, dan kalau aktif, apakah relevan dengan kebutuhan kita? 

Cek langsung domain yang menarik perhatian kita
Cek langsung domain yang menarik perhatian kita
Contoh nama domain yang aman
Contoh nama domain yang aman

Proses ini membuat kita bisa mengeliminasi nama domain yang sudah digunakan sebagai situs terlarang (judi, pornografi, dsb) dan sudah diblokir di Indonesia. Pastinya ini jadi tidak bisa digunakan dalam jangka waktu panjang.

Ada beberapa nama domain yang sudah diblokir di Indonesia.
Ada beberapa nama domain yang sudah diblokir di Indonesia.

Kedua, kroscek index-nya di Google → ketik site:namadomain di Google untuk memastikan domain masih ter-index di Google. Ini membuat pekerjaan optimasi SEO ke depannya menjadi SEDIKIT lebih ringan, karena Google pernah berkunjung (nge-crawl) domain ini. 

Cara mengecek status indexing dengan site:namadomain di Google
Cara mengecek status indexing dengan site:namadomain di Google

Ketiga, cek profil backlink-nya → lihat apakah domain itu punya riwayat backlink bersih, atau justru banyak link dari situs spam dan terlarang. Silakan gunakan tools cek backlink favorit kamu, salah satu yang gratis adalah Backlink Checker dari Ahrefs.

Cara mengecek backlink profile
Cara mengecek backlink profile

Keempat, cek Archive.org (opsional) → ini untuk tahu histori domain-nya. Pernah dipakai buat apa sebelumnya? Kalau pernah jadi situs spam & terlarang, sebaiknya dihindari.

Gunakan Wayback Machine (Archive.org) untuk melihat history penggunaan domain
Gunakan Wayback Machine (Archive.org) untuk melihat history penggunaan domain

5. Kalau Sudah Nemu Domain yang Oke, Tinggal Beli

Kalau semua pengecekan sudah oke, dan kamu yakin dengan domain yang akan kamu beli, silakan kembali ke MostDomain. Tekan tombol Order di nama domain yang kamu pilih, nanti kamu akan diarahkan ke Telegram. Selesaikan proses transaksi di sana. 

Aged Domain Bisa Jadi Fondasi Website Jangka Panjang

Intinya, aged domain bisa jadi fondasi kuat buat bangun website yang awet, asal dipakai dengan strategi yang sehat.

Jangan jatuh ke mindset “jalan pintas SEO”. Ingat, Google makin pintar. Yang bertahan lama tetap website yang relevan dan bermanfaat buat audiensnya.

Kalau kamu pakai platform seperti MostDomain, proses mencari aged domain jadi lebih mudah dan transparan, membuat kamu bisa memfokuskan di hal yang lebih penting: usermu.

Jadi, apa rencana kamu dengan aged domain? Mau bikin website apa?

Author

Jika ingin bekerjasama seperti ini (pemasangan iklan, advertorial, dan kolaborasi komersial lainnya) silakan hubungi kami.

1 Comment

Write A Comment