Search Engine Optimization (SEO) itu bukan hanya tentang backlink (tautan balik) atau konten saja, namun juga melibatkan struktur website yang logis.

Oleh karena itu, salah satu fondasi dalam SEO campaign yang harus diperhatikan oleh para SEO specialist adalah taxonomy SEO, atau bisa kita sebut juga website taxonomy.

Nah, di tulisan kali ini, DailySEO ID akan membahas tentang pengertian taxonomy pada SEO website secara komprehensif hingga tips untuk melakukannya.

Jadi, silakan baca terus hingga akhir ya, agar kita semakin paham dan bisa mempraktikkannya untuk website masing-masing.

Apa Itu Taxonomy SEO?

Kita berkenalan dulu dengan dasarnya, yaitu taxonomy (taxonomi).

Taxonomy adalah ilmu dan praktik penamaan, pendeskripsian, serta pengklasifikasian kelompok objek berdasarkan karakteristik yang sama.

Lalu bagaimana dengan taxonomy SEO?

Taksonomi dalam SEO mengacu pada praktik pengorganisasian dan pengategorian konten situs web secara logis dan hierarkis.

Hal ini melibatkan pembuatan sistem klasifikasi yang membantu pengguna untuk menavigasi situs dan menemukan informasi yang relevan dengan mudah.

Dalam praktiknya, taxonomy memiliki kaitan erat dengan struktur URL website Anda, yaitu struktur yang digunakan untuk mengklasifikasi URL website sesuai dengan konten di dalamnya.

Namun, struktur URL bukanlah satu-satunya cara dalam mengorganisir konten website.

Masih ada beberapa cara lain yang bisa teman-teman lakukan dalam membangun taksonomi website, misalnya dengan memanfaatkan internal link atau tag.

Mengenal Jenis-jenis Site Taxonomy

Penentuan struktur taksonomi dari website akan didasarkan pada beberapa faktor, di antaranya:

  • Fungsi website
  • Jenis konten di dalam website
  • Hingga skala besar atau jumlah page pada website.

Berikut beberapa tipe taksonomi yang paling umum digunakan dalam mengklasifikasi konten atau halaman.

1. Flat Taxonomy

flat taxonomy
Dok. Marchyandi Rayi

Flat taxonomy (taxonomi datar) adalah sistem pengaturan konten website di mana semua kategori pada website berada pada level yang sejajar (horizontal).

Struktur website ini cocok digunakan untuk website kecil yang tidak memiliki banyak konten di dalamnya.

Sebagai contoh, flat taxonomy dapat digunakan oleh website company profile yang pada homepage-nya hanya memiliki tiga sampai empat kategori konten, seperti:

  • Tentang Kami
  • Lokasi
  • Layanan
  • Kontak.

2. Hierarchical Taxonomy

hierarchical taxonomy
Dok. Marchyandi Rayi

Hierarchical taxonomy (taxonomi hierarkis) merupakan taksonomi website di mana kategori konten diurutkan dari yang paling penting atau umum, sampai ke yang paling spesifik.

Contoh penerapan hierarchical taxonomy bisa diambil dari kategori konten website DailySEO ID.

Pada website DailySEO ID, artikel seputar SEO dikategorikan menjadi beberapa topik umum seperti:

  • Keyword Research
  • On-page SEO
  • Technical SEO
  • Off-page SEO, dan beberapa topik lainnya.

Mengacu pada taksonomi tersebut, maka URL yang digunakan pada setiap kategori menjadi:

  • https://www.dailyseo.id/keyword-research/judul-artikel-1
  • https://www.dailyseo.id/keyword-research/judul-artikel-2
  • Dan seterusnya.

Struktur URL tersebut menunjukkan bahwa artikel 1 dan artikel 2 berada dalam kategori konten keyword research.

3. Facet Taxonomy

Dok. Marchyandi Rayi

Facet taxonomy merupakan struktur yang digunakan ketika topik pada konten website bisa dimasukkan ke dalam beberapa kategori yang berbeda.

Biasanya, struktur ini digunakan pada website agar pengunjung dapat menemukan konten dengan menyortir atribut tertentu.

Misalnya, pada website ecommerce yang setiap halaman produknya memiliki banyak atribut yang berbeda.

Namun harap hati-hati dalam menerapkannya, pasalnya taxonomi jenis ini berpotensi mendatangkan kendala duplicate content atau crawl budget yang boros.

Baca Juga:  Memahami Apa itu Subdomain dan Perbedaannya dengan Domain

Agar terhindar dari kendala tersebut, teman-teman bisa terapkan canonical tag dan noindex tag pada konten yang dianggap kurang penting atau tidak ingin ditampilkan di hasil pencarian.

Mengapa Site Taxonomy Penting bagi SEO?

Sampai di sini, teman-teman telah memiliki gambaran mengenai apa itu site taxonomy beserta ragam jenisnya.

Namun, seberapa penting kah taksonomi bagi website?

Bagaimana taksonomi website memengaruhi aktivasi SEO Anda?

Taksonomi atau struktur pada website akan memengaruhi bagaimana pengunjung berinteraksi dengan website Anda.

Tentunya, semakin baik dan jelas taksonomi dari sebuah website, maka pengunjung akan semakin mudah menemukan dan mengonsumsi konten dalam website Anda.

Sebaliknya, website yang tidak memiliki struktur yang jelas akan mempersulit pengunjung dalam menavigasi dan memahami konten Anda.

Bahkan, bisa saja pengunjung akan frustrasi dan akhirnya memilih untuk langsung meninggalkan website (bounce).

Selain memudahkan pengunjung dalam menjelajahi website, memiliki taksonomi yang jelas juga akan membantu Google dalam memahami isi website Anda.

Google men-crawl sebuah website dengan mengikuti link pada halaman, baik link internal maupun eksternal, menggunakan bot yang disebut Googlebot.

Dengan mengikuti link tersebut, Google dapat memahami hubungan antara masing-masing halaman dan menentukan bagaimana konten website Anda akan di-index.

Dengan begitu, bisa dibilang struktur website Anda berperan sebagai panduan bagi Google dalam menemukan dan memahami konten yang ada di dalam website teman-teman.

Tips Menjalankan Optimasi Taxonomy SEO

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa yang perlu Anda lakukan adalah memastikan taksonomi website dapat memudahkan user dan juga search engine dalam memahami konten website Anda.

Untuk mencapai hal tersebut, berikut beberapa tips yang bisa Anda jadikan panduan demi memastikan website Anda memiliki taksonomi yang baik.

1. Mulai dengan Keyword Research dan Topik

Riset keyword dan topik merupakan fondasi utama dari menjalankan strategi SEO yang sukses.

Tanpa adanya usaha ini, Anda tidak akan mengetahui dengan pasti informasi apa yang audience Anda inginkan dan apa yang mereka cari pada search engine.

Mengetahui keyword dan topik yang relevan dengan website Anda juga akan sangat membantu dalam mengatur taksonomi dari kategori konten website Anda.

Untuk melakukannya, Anda dapat menggunakan topik umum dari daftar topik yang telah Anda miliki sebagai kategori konten.

Lalu, tentukan subtopik dan keywords lain yang relevan dengan topik umum tersebut sebagai cluster turunannya.

Dengan cara ini, konten pada website Anda akan memiliki topic cluster yang terstruktur dengan hubungan yang jelas.

Jangan lupa lupakan juga search intent dibalik pencarian yang user lakukan.

Apakah mereka sedang mencari informasi, akan melakukan pembelian, atau mencari rekomendasi?

2. Buat Taksonomi Website Sesederhana Mungkin

Selalu ingat bahwa tujuan utama dalam mengatur taksonomi website adalah untuk mempermudah pengunjung dan search engine dalam memahami konten website Anda.

Artinya, semakin sederhana taksonomi website Anda, maka akan semakin baik.

Sebaliknya, membuat taksonomi yang rumit dengan ratusan kategori dan subkategori hanya akan memperburuk keadaan dan mempersulit search engine dan pengunjung website Anda.

Untuk menjaga taksonomi website Anda tetap sederhana, pastikan Anda hanya memiliki beberapa kategori utama saja.

Untuk konten lainnya bisa teman-teman letakkan sebagai subkategori dari kategori utama tersebut.

3. Sediakan Ruang yang Cukup untuk Kategori Tambahan

Taksonomi dari website Anda akan mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya konten pada website Anda.

Ketika teman-teman membuat konten baru, mungkin saja Anda perlu untuk menata ulang bahkan menambahkan beberapa kategori baru pada website demi memastikan semua konten terhubung dengan baik.

Namun, terlalu sering merubah struktur dan kategori website juga bukan merupakan praktik yang baik, karena sedikit banyak akan memengaruhi ranking website Anda pada SERP (Search Engine Result Pages).

Baca Juga:  Apakah Penggunaan Subdomain & Subdirectory Memengaruhi Ranking di Google Search?

Struktur website yang baik adalah struktur yang meskipun memiliki kategori yang mapan, namun tetap memiliki keterbukaan bagi adanya perubahan di waktu yang akan datang.

4. Pastikan Struktur URL Website Jelas

Struktur URL yang baik adalah struktur URL yang memiliki hierarki dan memiliki hubungan semantik yang jelas.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat bersama-sama perbandingan dari contoh URL dengan struktur yang buruk dengan URL yang memiliki struktur yang baik.

Contoh struktur URL yang kurang baik dari segi taksonomi:

  • https://contohdomain.com/tahun/bulan/tanggal/contoh-judul-artikel-1/
  • https://contohdomain.com/tahun/bulan/tanggal/contoh-judul-artikel-2/
  • https://contohdomain.com/tahun/bulan/tanggal/contoh-judul-artikel-3/

Contoh di atas menggambarkan URL artikel blog pada website yang dikategorikan berdasarkan tanggal publish artikel.

Pengategorian konten dengan tanggal seperti ini kurang baik karena terbilang cukup kompleks.

Selain itu, taksonomi pada URL tersebut juga tidak menunjukkan relevansi antara setiap konten.

Contoh struktur URL yang lebih baik dari segi taksonomi:

  • https://contohdomain.com/content-marketing/cara-membuat-content-mapping/
  • https://contohdomain.com/social-media-marketing/tools-social-media-marketing-terbaik/
  • https://contohdomain.com/search-engine-marketing/cara-menggunakan-google-keyword-planner/

Dapat dilihat bahwa struktur URL di atas lebih mudah dimengerti.

Alasannya karena struktur tersebut menggambarkan dengan jelas konten dan topik apa yang akan ditemukan pengguna saat mengunjungi URL tersebut.

Selain itu, setiap artikel blog juga memiliki kategori konten pada taksonomi URL sehingga pengunjung website dan search engine dapat memahami relasi antara konten hanya dengan struktur URL-nya saja.

5. Menggunakan Topic Cluster untuk Mengelompokkan Konten

Istilah topic cluster mungkin masih terdengar cukup asing untuk Anda yang baru belajar SEO.

Namun sebetulnya, teknik ini cukup mendasar dan vital dalam menjalankan SEO.

Topic cluster sendiri adalah sebuah metode yang digunakan dalam SEO untuk menyusun atau mengelompokkan konten website berdasarkan kesamaan topik atau keyword yang relevan.

Pada praktiknya, topik pada website dibangun dengan mengelompokkan konten yang berhubungan atau memiliki kesamaan pembahasan menjadi struktur hirarki, yang masing-masing dihubungkan dengan internal link.

Sebagai contoh, untuk membuat topic cluster tentang SEO, Anda dapat membuat konten utama untuk menjawab pertanyaan yang umum, misalnya artikel “Apa itu SEO?“.

Lalu pada level hirarki setelahnya, Anda bisa membuat artikel dengan topik turunan dari konten utama tersebut, misalnya artikel tentang “Off-Page SEO” dan “On-Page SEO”.

Kemudian struktur ini bisa Anda kembangkan lagi dengan membuat artikel yang menggunakan topik yang lebih spesifik.

Dari topik “On-Page SEO” misalnya, Anda bisa menambahkan artikel turunan dengan topik seputar riset keyword, meta tag, atau topik lain yang berhubungan dengan onpage SEO.

Sedangkan dari artikel “Off-Page SEO”, Anda bisa membuat artikel baru yang membahas link building, guest posting, atau topik lain seputar offpage SEO.

Menggunakan taksonomi seperti ini dapat membantu search engine dalam memahami konten website Anda lebih mudah karena hubungan semantik antarhalaman menjadi jelas.

Penutup

Menerapkan taxonomy SEO yang tepat akan membantu membangun struktur website yang lebih logis, memudahkan navigasi pengguna, serta mempercepat mesin pencari memahami hubungan antarhalaman.

Dengan hierarki yang jelas, peluang memperoleh ranking yang lebih baik di hasil pencarian juga semakin besar.

Karena itu, pastikan taxonomy website dirancang secara terstruktur sejak awal agar memberikan manfaat jangka panjang bagi pengalaman pengguna maupun performa SEO.

Jika teman-teman memiliki pertanyaan terkait, silakan tuliskan pada kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

Diperbarui oleh: Apri.

Referensi:

https://martech.org/website-taxonomy-guidelines-tips/

https://developers.google.com/search/docs/fundamentals/how-search-works

https://www.searchenginejournal.com/complete-guide-site-taxonomy-seo/461241

Author

SEO & SEM Specialist at Meson Digital

3 Comments

  1. Pingback: Mengenal SEO Log File Analysis & Manfaatnya, Profesional Harus Tahu! - DailySEO ID

  2. Untuk best practice silo content itu bagaimana ya? Pada penjelasan di artikel, berarti untuk artikel “onpage SEO” dan “offpage SEO” itu kasih internal link ke artikel “apa itu SEO” dan di artikel “Apa itu SEO” juga kasih link ke “onpage SEO” dan “offpage SEO” juga tidak?

  3. berarti blog yg hostingnya pake blogger. com itu udh minus ya secara taksonomi karna format urlnya, kalo udah begini ada solusi selain pindah hosting ga

Write A Comment