AI (Artificial Intelligence) sudah jadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memproduksi konten untuk kepentingan bisnis.

Tapi banyak yang masih terjebak pada pertanyaan, “AI mana yang paling bagus?” dibandingkan dengan bertanya, “bagaimana cara membangun sistem kerja yang membuat AI benar-benar menghasilkan konten berkualitas tinggi?”

Pertanyaan kedua inilah yang dibedah tuntas dalam webinar bulanan DailySEO ID pada Selasa, 30 Juni 2026.

Selama hampir dua jam, peserta diajak menyelami topik “High-Quality AI-Assisted Content Creation Workflow for Business” bersama narasumber Nabila Ghaida Zia

Nabila Ghaida Zia merupakan Growth Marketing Manager di 3D Wonders yang juga memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang kepenulisan serta 5 tahun lebih di bidang SEO dan brand narrative untuk perusahaan di Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Malaysia.

Nabila juga pernah menjadi community speaker di Google Search Central Live Asia Pacific 2025.

Kriteria High Quality Content: Fondasi Sebelum Bicara AI

Sesi dibuka dengan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya membuat sebuah konten layak disebut berkualitas tinggi?

Nabila memaparkan empat kriteria utama yang ia sebut sebagai kerangka HQC (High Quality Content), yaitu:

  • Accuracy: informasi akurat, terverifikasi, dan dapat dipercaya
  • Quality: ditulis dengan effort tinggi, terstruktur, dan bernilai nyata
  • Relevance: relevan dengan kebutuhan dan intent pengguna
  • Context: sesuai konteks topik, audiens, dan platform

Ia merangkum keempatnya dalam satu prinsip yang cukup menohok:

Konten yang berkualitas = Konten yang relevan dan sesuai konteks. Google ingin users dapat konten dengan effortless, tapi pembuat konten perlu membuatnya dengan full effort.

Nabila juga menekankan bahwa relevansi konten harus dibangun untuk dua audiens sekaligus, yaitu  manusia dan mesin.

Untuk pembaca manusia, ia menyarankan teknik penulisan seperti inverted pyramid (informasi terpenting di awal), formula PAS (Problem–Agitate–Solution), formula AIDA (Attention–Interest–Desire–Action), serta menjawab pertanyaan utama langsung di paragraf pertama. 

Sementara untuk search engine dan AI engine, kontennya perlu memperhatikan cara kerja crawling dan indexing Google & Bing, semantic search, struktur data yang jelas, serta prinsip E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness).

Baca Juga:  Bagaimana Perusahaan Merekrut SEO Specialist? Diskusi TurnBackLink dengan HR

Salah satu tips praktis yang dibagikannya adalah memanfaatkan NotebookLM (Gemini Notebook) untuk mengumpulkan berbagai sumber tentang cara kerja Google, Bing, Claude, dan ChatGPT, lalu meminta AI mengekstraksi pola struktur, heading, dan poin kunci sebagai dasar penyusunan outline konten.

Dokumentasi Brand Playbook: Rahasia di Balik Konten AI yang Konsisten

Poin kedua ini menjadi salah satu insight penting dalam webinar.

Menurut Nabila, kunci menghasilkan High-Quality AI-Assisted Content bukan semata soal jago prompt engineering

Kunci High-Quality AI-Assisted Content bukan hanya karena kemampuan prompt engineering. Rahasianya ada pada dokumentasi brand playbook.

Brand playbook yang dimaksud setidaknya mencakup tiga elemen inti:

  • Brand Purpose (alasan mendasar keberadaan brand di luar mencari keuntungan)
  • Vision & Mission (gambaran masa depan yang ingin dicapai beserta langkah nyatanya)
  • Positioning (cara brand ingin dipersepsikan dibanding kompetitor). 

Selain itu, ada elemen pendukung lain seperti target audience/ICP, product knowledge, value proposition, brand personality, voice & tone, messaging framework, competitor analysis, brand pillars, hingga differentiation.

Cara membuatnya bisa lewat dua jalur, yitu kolaborasi langsung dengan stakeholder (tim marketing, sales atau ekstraksi menggunakan AI dengan cara menyiapkan berbagai konten brand berupa video maupun teks, memasukkannya ke Gemini Notebook, lalu meminta AI menyusun brand voice & tone berdasarkan data tersebut.

Tetapkan AI Guardrails: Batasan agar AI Tetap Terkendali

AI Guardrails didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan pedoman yang memastikan output AI tetap berkualitas, akurat, dan sesuai nilai brand.

Tanpa guardrails, konten hasil AI berisiko tidak konsisten bahkan berpotensi melanggar prinsip brand.

Beberapa elemen guardrails yang perlu ditetapkan antara lain voice & tone, aturan do & don’t, mekanisme fact checking, formatting rules, brand messaging, safety & compliance, hingga escalation rules atau kapan AI harus menyerahkan keputusan ke manusia.

Cara membangunnya dijelaskan dalam beberapa langkah, seperti menentukan prinsip utama, membuat aturan yang tidak boleh dilanggar, menentukan kapan AI harus eskalasi ke manusia, mengidentifikasi topik sensitif, menyesuaikan dengan regulas, hingga menetapkan prosedur untuk kasus khusus. 

Baca Juga:  Webinar DomaiNesia x DailySEO ID: Strategi WordPress Menghadapi Era AI Search

Prinsip pentingnya sederhana: jika AI ragu, jangan berasumsi. Minta klarifikasi atau eskalasi ke manusia.

Workflow AI-Assistant High Quality Content: Bukan Sekadar “Minta AI”

Ini adalah bagian paling praktikal dari webinar.

Nabila memperkenalkan alur kerja lengkap mulai dari ideation, research, create outline, create content brief, content creation, quality control, SEO/GEO audit, review, editing, enriching, hingga publish.

Ia menegaskan bahwa proses ini menuntut keterlibatan aktif manusia, bukan sekadar mengandalkan AI begitu saja:

Pada tahap quality control, Nabila menyarankan membuat Custom GPT atau Claude Skill khusus untuk mengecek akurasi tulisan.

Sementara pada tahap SEO/GEO audit, audit mencakup struktur heading, meta title dan description, alt text, internal linking, kelengkapan E-E-A-T, hingga memastikan konten mudah di-crawl dan dijadikan referensi oleh AI.

Sebelum konten publish, tahap enriching mencakup penambahan gambar, video, infografis, dan audio yang relevan, optimasi metadata, hingga distribusi ke berbagai kanal seperti media sosial dan newsletter.

Menilai Kualitas Konten: Metrik yang Perlu Dipantau

Sesi ditutup dengan pembahasan cara mengukur keberhasilan konten setelah publish.

Nabila membagi metrik ini menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah metrik tradisional: jumlah klik dari hasil pencarian, impression, posisi query di peringkat 1–10 melalui Google Search Console, serta page view dan active user sebagai indikator keterlibatan nyata pengguna.

Kelompok kedua adalah metrik era AI search yang kini makin relevan: AI citation & mention (melacak sebutan konten oleh AI engine lewat SemRush dan Ahrefs), kenaikan trafik yang bersumber dari AI search, serta grounded queries & citation page yang bisa dipantau lewat Bing Webmaster Tools untuk mengetahui halaman mana yang dikutip AI sebagai sumber.

Penutup

Webinar bulanan DailySEO ID edisi Juni 2026 ini menegaskan satu hal, yaitu AI-assisted content creation yang berkualitas tinggi bukan soal mengandalkan AI secara instan, melainkan soal membangun sistem. 

Sistem yang dimaksud mulai dari standar kualitas, dokumentasi brand, batasan penggunaan AI, alur kerja yang terstruktur, hingga cara mengukur hasilnya.

Bagi bisnis yang ingin konten mereka tetap otentik sekaligus efisien diproduksi, kelima elemen ini bisa menjadi kerangka kerja yang bisa diadopsi.

Nantikan webinar bulanan mendatang di DailySEO ID!

Write A Comment