Ada perubahan besar yang sedang terjadi di dunia e-commerce Indonesia.

Jutaan seller yang selama ini berjualan di Tokopedia dan Shopee mulai berpikir ulang.

Mereka mulai bertanya:

“Kenapa bisnis saya bergantung penuh pada platform orang lain?”

Dan pertanyaan itu mendorong satu keputusan yang sama, yaitu membangun website sendiri.

Bagi Anda praktisi SEO, ini bukan sekadar tren.

Ini adalah gelombang permintaan klien baru yang sedang terbentuk, dan belum banyak yang sadar soal ini.

Artikel ini akan menjelaskan kenapa, dan apa yang bisa Anda lakukan sekarang.

Kenapa Seller Mulai Tidak Betah di Marketplace?

Dari luar, marketplace terlihat seperti solusi sempurna.

Traffic sudah ada. Pembeli sudah siap. Tinggal upload produk.

Tapi kalau dilihat dari dalam, ada empat tekanan yang dirasakan hampir semua seller aktif saat ini.

Pertama: Perang Harga yang Tidak Ada Ujungnya

Produk yang mirip bisa dibandingkan dalam hitungan detik.

Satu-satunya cara bersaing adalah turunkan harga. Margin menipis, tapi biaya operasional tidak ikut turun.

Kedua: Biaya Iklan yang Terus Naik

Mordor Intelligence melaporkan bahwa hampir 87% transaksi e-commerce berasal dari segmen B2C, menegaskan bahwa sebagian besar penjual masih sangat bergantung pada platform
besar.

Artinya saingan ada di mana-mana. Kalau tidak beriklan, produk tenggelam.

Ketiga: Data Pelanggan Bukan Milik Seller

Seller tidak bisa mengakses email atau nomor telepon pembeli mereka sendiri.

Semua data ada di tangan platform. Satu perubahan kebijakan, akses ke ribuan pelanggan bisa hilang dalam semalam.

Keempat: Tidak Ada Ruang untuk Membangun Brand

Di marketplace, yang diingat pembeli adalah “beli di Shopee”, bukan nama toko Seller. Ini seolah-olah seller membangun bisnis di atas tanah milik orang lain.

Kombinasi keempat hal ini mendorong seller untuk mulai mencari jalan keluar.

Satu Data yang Mengubah Segalanya

Sebelum bicara peluang, lihat dulu satu angka ini.

Menurut data dari Think with Google, pengguna internet secara aktif menggunakan mesin pencari untuk menemukan, membandingkan, dan mengevaluasi produk sebelum akhirnya melakukan pembelian.

Artinya apa?

Separuh dari keputusan pembelian dimulai dari Google, bukan dari marketplace.

Ini mengubah cara kita melihat persoalan secara mendasar.

Marketplace bukan titik awal perjalanan pembeli.

Google adalah titik awalnya.

Dan di titik awal itu, sebagian besar seller marketplace sama sekali tidak hadir.

Ini Bukan Tren Sesaat

Kalau masih ragu apakah ini peluang yang serius, lihat datanya.

Menurut Payments Market Insights, nilai e-commerce Indonesia sudah mencapai US$75 miliar di tahun 2024 dan diproyeksikan tumbuh hingga US$125 miliar pada 2027.

Salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.

Artinya jumlah seller terus bertambah.

Dan semakin banyak seller, semakin ramai kompetisi di dalam marketplace, semakin besar keinginan mereka untuk keluar.

Satu data lagi yang penting:

Menurut ApplabX, Google menguasai lebih dari 90 persen market share pencarian di Indonesia.

Hampir semua riset produk terjadi di satu ekosistem, dan ekosistem itu dioptimasi lewat SEO.

Gambarnya sudah jelas:

Ada market yang besar, ada pembeli yang mencari lewat Google, dan ada jutaan seller yang belum tahu cara memanfaatkan satu pun dari itu.

Baca Juga:  Kembangkan Brand Bisnis dengan Share of Voice Measurement

Pergeseran yang Lebih Besar dari Kelihatannya

Yang sedang terjadi bukan sekadar “seller mulai punya website“.

Ini pergeseran cara berpikir bisnis.

Dari platform-based commerce menuju asset-based commerce.

Dulu: bergantung pada traffic milik marketplace.

Sekarang: membangun traffic yang benar-benar milik sendiri.

Dan dalam setiap pergeseran model bisnis yang besar, selalu ada satu profesi yang paling dibutuhkan lebih awal dari yang lain.

Dalam konteks ini, profesi itu adalah SEO Specialist.

Kenapa SEO Adalah Kunci dari Semua Ini

Ada satu kesalahpahaman besar yang hampir selalu terjadi pada seller yang baru punya website.

Mereka pikir begitu website jadi, traffic akan datang sendiri.

Tidak.

Website tanpa SEO hanya etalase online yang tidak ada yang kunjungi.

Dan ini adalah masalah nyata yang dihadapi hampir semua seller yang baru migrasi dari marketplace.

Mereka terbiasa dengan traffic instan dari platform.

Begitu punya website sendiri, tidak ada yang datang. Mereka bingung, dan frustrasi.

Di sinilah Anda masuk.

Bukan sebagai penjual jasa teknis, tapi sebagai orang yang bisa memecahkan masalah bisnis yang nyata.

SEO dalam konteks ini bekerja pada tiga level:

Pertama: menangkap demand yang sudah ada. Pembeli sudah mencari produk serupa di Google, tapi belum menemukan website seller tersebut.

Kedua: membangun aset jangka panjang. Konten yang terus mendatangkan traffic bahkan setelah tidak ada yang aktif mengerjakannya.

Ketiga: menciptakan kontrol atas distribusi. Seller tidak lagi bergantung pada algoritma platform yang bisa berubah kapan saja.

Dan berbeda dengan iklan yang berhenti begitu budget habis, SEO terus bekerja.

Proposisi nilai ini sangat mudah dijelaskan ke seller yang sudah lelah membakar uang di iklan marketplace.

Enam Segmen Layanan yang Bisa Anda Tawarkan

Kebutuhan seller tidak satu dimensi. Ada enam segmen yang relevan.

1. SEO Setup untuk Website Baru

Volume terbesar saat ini.

Seller yang baru pindah dari marketplace hampir semuanya punya masalah yang sama: website sudah jadi, tapi belum dioptimasi sama sekali, tidak ada sitemap, struktur URL berantakan, kecepatan lambat, belum mobile-friendly.

Ini pekerjaan yang terstandar, tapi sangat bernilai bagi seller yang tidak punya latar belakang teknis.

2. Keyword dan Content Strategy

Seller tidak tahu apa yang harus ditulis.

Di marketplace mereka tidak perlu memikirkan ini. Sekarang mereka perlu, dan tidak tahu harus mulai dari mana.

Layanan keyword research dan content strategy dengan konteks e-commerce, bukan blog generik, adalah salah satu yang paling dibutuhkan dan paling jarang tersedia.

3. E-commerce SEO

Berbeda dari SEO konten biasa.

E-commerce SEO fokusnya pada struktur halaman produk dan kategori, schema markup, optimasi gambar, dan internal linking yang mendukung konversi.

Seller dengan ratusan SKU akan sangat merasakan dampaknya.

4. Content Production Berbasis SEO

SEO butuh konten yang konsisten dalam jangka panjang.

Seller tidak punya waktu atau kemampuan untuk mengerjakannya sendiri. Ini membuka peluang recurring income yang stabil untuk Anda.

5. Local SEO

Local SEO sangat relevan untuk seller yang punya toko fisik atau showroom.

Google Business Profile yang dioptimasi bisa menjadi sumber traffic lokal yang signifikan, dan sering kali lebih mudah diranking dibanding keyword nasional.

6. Generative SEO untuk Era AI

Segmen paling baru, tapi paling strategis.

Fitur AI Overview di Google mulai mengubah cara orang mencari dan menemukan produk.

Praktisi yang memahami cara mengoptimasi konten untuk era ini akan punya keunggulan kompetitif yang sulit dikejar.

Di Level Mana Anda Ingin Bermain?

Ada tiga pilihan.

Level Eksekutor: mengerjakan tugas teknis yang spesifik. Setup, SEO audit, optimasi. Entry point yang mudah, tapi margin terbatas.

Level Specialist: menawarkan paket lengkap untuk satu fase. Paket “SEO launch” untuk website baru, misalnya. Anda menjual solusi, bukan jam kerja. Nilai lebih tinggi.

Baca Juga:  Google: Lakukanlah Disavow Link jika Memang Bermasalah

Level Strategic Partner: masuk sebagai mitra pertumbuhan jangka panjang. Anda membantu seller memahami seluruh ekosistem digital mereka. Di level ini, Anda bisa charge jauh lebih tinggi karena dampaknya langsung terasa di revenue klien.

Semakin tinggi level-nya, semakin panjang siklus penjualannya.

Tapi semakin stabil dan menguntungkan hubungan kerjanya.

Kenapa Masih Sepi yang Masuk ke Sini

Kalau peluangnya sebesar ini, kenapa belum ramai?

Tiga alasan utama.

Pertama: sebagian besar praktisi SEO masih bermain di market lama. Website corporate, landing page jasa, blog perusahaan. Market itu kompetitif dan sudah penuh. Segmen seller e-commerce yang baru pindah ke website sendiri masih relatif kosong.

Kedua: seller belum terbiasa membeli jasa SEO. Mereka terbiasa dengan model self-serve di marketplace. Untuk meyakinkan mereka, Anda perlu menerjemahkan nilai SEO ke dalam bahasa yang mereka pahami: traffic, pesanan, dan revenue. Bukan ranking dan domain authority.

Ketiga: kompetensi SEO di kalangan seller masih sangat terbatas. Ini bukan hambatan. Ini kesempatan. Semakin rendah literasi klien tentang SEO, semakin besar peran edukasi yang bisa Anda mainkan. Dan edukasi yang konsisten adalah cara paling efektif membangun kepercayaan sebelum menjual apapun.

Langkah Konkret untuk Mulai Masuk

Cukup teorinya. Ini yang bisa Anda lakukan sekarang.

Langkah 1: Pilih satu pintu masuk. Jangan tawarkan semuanya sekaligus. Mulai dengan satu layanan yang paling Anda kuasai. Setup SEO untuk website baru adalah titik masuk paling natural karena hampir semua seller yang baru punya website butuh ini.

Langkah 2: Bangun satu studi kasus yang relevan. Seller e-commerce tidak tertarik dengan portofolio website corporate. Mereka ingin melihat: “dari nol organik ke sekian ribu pengunjung per bulan untuk toko online kategori ini.” Kalau belum punya, kerjakan satu proyek dengan harga spesial sebagai investasi portofolio.

Langkah 3: Pelajari bahasa klien. Seller berbicara tentang pesanan, konversi, biaya per penjualan, dan margin. Bukan keyword density atau PageRank. Semakin Anda bisa menerjemahkan hasil SEO ke metrik yang mereka pahami, semakin mudah proses penjualan.

Langkah 4: Mulai produksi konten untuk segmen ini. Artikel seperti yang sedang Anda baca ini adalah cara paling efektif untuk menarik klien yang tepat secara organik. Seller yang aktif riset tentang “cara punya website sendiri” atau “cara dapat traffic tanpa iklan” adalah calon klien yang sudah setengah jalan menuju keputusan membeli jasa Anda.

Langkah 5: Tentukan positioning Anda sejak awal. Eksekutor yang andal? Specialist untuk kategori produk tertentu? Strategic partner untuk bisnis e-commerce yang serius? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan cara Anda berkomunikasi, siapa yang Anda targetkan, dan berapa Anda bisa charge.

Gelombang ini Tidak Akan Menunggu

Yang sedang terjadi di ekosistem e-commerce Indonesia bukan siklus biasa.

Ini pergeseran struktural dari model bisnis yang bergantung pada platform, menuju model yang memiliki aset sendiri.

Dan setiap kali ada pergeseran model bisnis yang besar, selalu ada window waktu di mana yang bergerak lebih awal mendapat keuntungan yang tidak proporsional.

Window itu sedang terbuka sekarang.

Jutaan seller sedang mencari cara untuk membangun traffic sendiri.

Mereka tidak tahu harus mulai dari mana.

Dan mereka butuh seseorang yang tidak hanya bisa mengerjakan teknis SEO, tapi bisa membantu mereka memahami kenapa ini penting dan apa yang harus dikerjakan pertama kali.

Nah, di posisi itulah Anda bisa hadir.

Sebagai penutup, jika Anda memiliki pertanyaan terkait artikel ini, silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

Referensi:

https://www.mordorintelligence.com/industry-reports/indonesia-ecommerce-market

https://business.google.com/en-all/think/consumer-insights/

https://paymentscmi.com/insights/indonesia-ecommerce-market-data/

https://blog.applabx.com/the-state-of-seo-in-indonesia-in-2025/

Author

Menulis tentang SEO, content, dan growth dengan pendekatan yang sederhana dan praktikal. Fokus pada bagaimana membangun aset digital yang benar-benar berdampak untuk bisnis.

Write A Comment