Teruntuk para Search Engine Optimizer, atau jika boleh saya sebut sebagai Webmaster, kita pasti sudah sangat familiar dengan kalimat “Sediakan sitemap.xml dalam situs, kalo mau website SEO Friendly”.

Hal ini juga sering saya utarakan di setiap sesi mengajar kursus SEO, baik secara publik atau private. Namun sebelum menyematkan kalimat tersebut dalam rangkaian dialog, saya selalu memulai dengan, “Kira-kira, sitemap buat apa sih?” karena sepertinya saya sendiri atau bahkan Anda yang membaca tulisan ini masih sekumpulan tempe, tidak ada yang tahu (oke, ini jokes bapak-bapak, maap)

Mari kita mulai dialog dalam artikel ini dalam sebuah konteks “kenapa sitemap menjadi penting dalam proses SEO”.

Apa itu Sitemap?

Merujuk dari dokumen Google Developer, sitemap adalah sebuah file yang berisi informasi tentang sebuah halaman, file, hingga media (foto dan video) yang ada di dalam website dan apa kaitannya satu sama lain (jika ada).

Jika merujuk ke cara kerja mesin pencari, tentu kita mengenal bahwa Crawlbot perlu memahami konteks dari sebuah halaman, dengan menelusuri setiap hubungan antara satu konten dengan konten yang lain, termasuk link internal, external, atau bahkan link ke media. Dan sitemap bisa membantu Googlebot agar bekerja lebih efektif, jika sitemap dibuat secara rapi dan terstruktur.

Mengapa Sitemap harus rapi dan terstruktur?

Saya selalu suka bagian menganalogikan semuanya secara sederhana. Mari kita bayangkan, sebuah rumah yang berantakan, dengan semua perabot dan benda-benda di dalamnya diletakkan secara acak.

Dapatkah kita membedakan mana yang ruang tamu, mana yang dapur, mana yang ruang tidur, atau bahkan mana yang pintu depan dan pintu belakang? Silakan mikir, sementara saya akan menyeduh kopi.

Oke, kita lanjut. Membedakan mana informasi yang penting dan sebaiknya diakses terlebih dahulu oleh Crawlbot itulah alasan utama mengapa kita harus membuat sitemap kita rapi, dan terstruktur. Dengan struktur yang rapi tadi, Crawlbot mudah mengumpulkan informasi tentang website kita, termasuk konten yang ada didalamnya.

Hal ini yang kemudian akan dipahami oleh kita semua tentang fungsi dari sitemap.xml sebagai “cara googlebot memahami isi dari website kita”

Apakah ada fungsi lain yang menjadikan sitemap begitu penting dalam SEO? Ya, tentu saja ada.

Sedikit membedah isi Sitemap.xml, kenapa isinya harus seperti itu?

Saya termasuk orang yang cukup kepo, jika berkaitan dengan SEO, termasuk dengan isi file sitemap.xml

Entah apakah ada dari para pembaca disini yang pernah melihat isi dari sitemap? Bukan secara koding, tapi secara visual saat anda mengakses namadomain.com/sitemap.xml? Oke saya contohkan Sitemap.xml di website saya (Turnbacklink.com).

Isi sitemap.xml dari Turnbacklink.com

Ini adalah tampilan sitemap.xml default yang di generate oleh plugin SEO WordPress seperti RankMath, Yoast, atau plugin lainnya. 

Sengaja saya tandai yang berwarna merah, untuk sama-sama kita jadikan diskusi pada artikel kali ini. Jika diperhatikan terdapat informasi Last Modified, yang berarti saat ada perubahan pada isi dari setiap sitemap tersebut, maka timestampnya akan menyesuaikan, tidak percaya? Coba cek sitemap masing-masing setelah kalian post atau mengubah isi konten website.

Dalam Google Search Console, terdapat fitur Crawl statistic reporting yang berfungsi untuk melihat aktivitas crawler dalam website. Ini yang nanti akan menjadi insight terkait crawl budgeting dalam website kita.

Pada reporting ini, saya akan melakukan highlight Crawl by purpose, yaitu Refresh dan Discovery.

Crawl stats dari Turnbacklink.com

Jika diperhatikan pada contoh situs milik saya Turnbacklink.com, 98% crawlbot datang ke website ini dengan tujuan “Refresh”, antara mencari konten baru, atau memeriksa apakah ada perubahan yang terjadi dengan situs kita, termasuk Downtime server, missing content, atau aspek-aspek lain yang tidak bisa saya jelaskan dalam 1 artikel.

Crawlbot setidaknya akan lebih mudah memeriksa apakah ada hal yang baru dalam website kita, manakala diberikan informasi sesuatu berubah dari waktu dia berkunjung terakhir kali, yang bertanda “Last Modified”, dan ini dipermudah dengan tersedianya sitemap dengan link didalamnya yang merujuk langsung ke tempat terjadi perubahan tersebut, cukup masuk akal?

Kesimpulan

Setidaknya dari dua poin di atas, saya sadari betul keberadaan sitemap menjadi penting dalam SEO. Karena dalam sitemap, terdapat banyak informasi penting (setidaknya ada 2 informasi berdasar penjelasan di atas), yang perlu disajikan kepada crawlbot dengan tujuan membentuk konteks dari website yang kita miliki.

Mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana sebaiknya saya membuat sitemap, apakah cukup dengan plugin, atau apakah bisa saya membuat sitemap sendiri? Hal ini sudah terjawab melalui artikel Cara Membuat Sitemap Sendiri Tanpa Bantuan Plugin dalam website saya, chefrimba.com. Tabik

Kapan Sitemap benar-benar dibutuhkan? (Tambahan Redaksi DailySEO ID)

Menurut Google sendiri, sebenarnya Sitemap itu tidak wajib atau tidak selalu dibutuhkan. Mesin pencari bisa menemukan halaman-halaman di website kita dengan menelusuri/crawl link atau tautan yang ada di website kita. Akan tetapi, Sitemap menjadi penting untuk situs yang besar dan kompleks (punya halaman dengan jumlah sangat banyak).

Dikutip:

Jika halaman situs Anda ditautkan (di-link) dengan benar, Google biasanya dapat menemukan sebagian besar situs Anda.

Penautan yang benar artinya semua halaman yang Anda anggap penting dapat dijangkau melalui beberapa bentuk navigasi, baik itu link maupun menu situs yang ditempatkan di halaman.

Meskipun demikian, peta situs dapat meningkatkan crawling pada situs yang lebih besar atau lebih kompleks, atau file yang lebih khusus.

Mbah Google

Dikutip langsung dari Google Search Central, ini panduan kapan Anda butuh dan tidak butuh Sitemap:

Kapan Sitemap dibutuhkan

  • Situs Anda benar-benar besar. Akibatnya, makin besar kemungkinan bagi web crawler Google untuk melewatkan crawling pada beberapa halaman yang baru atau baru diperbarui.
  • Situs Anda memiliki arsip halaman konten besar yang terisolasi atau tidak tertaut dengan baik satu sama lain. Jika halaman situs tidak merujuk satu sama lain secara alami, Anda dapat mencantumkannya dalam peta situs untuk memastikan Google tidak melewatkan beberapa halaman Anda.
  • Situs Anda masih baru dan memiliki sedikit link eksternal (backlinks) yang mengarah ke sana. Googlebot dan web crawler lainnya meng-crawl web dengan mengikuti link dari satu halaman ke halaman lainnya. Akibatnya, Google mungkin tidak menemukan halaman Anda jika tidak ada situs lain yang menautkan ke halaman tersebut.
  • Situs Anda memiliki banyak konten multimedia (video, gambar) atau ditampilkan di Google Berita. Jika disediakan, Google dapat memperhitungkan informasi tambahan dari peta situs untuk penelusuran, jika sesuai.

Kapan Sitemap tidak dibutuhkan

Anda mungkin tidak memerlukan peta situs jika:

  • Situs Anda berukuran “kecil”. Artinya, situs Anda memiliki maksimal 500 halaman. (Total ini dihitung dari halaman yang menurut Anda perlu ditampilkan dalam hasil penelusuran.)
  • Situs Anda sepenuhnya tertaut secara internal. Artinya, Google dapat menemukan semua halaman penting di situs Anda dengan mengikuti link yang dimulai dari halaman beranda.
  • Anda tidak memiliki banyak file media (video, gambar) atau halaman berita yang ingin ditampilkan dalam hasil penelusuran. Peta situs dapat membantu Google menemukan dan memahami file video dan gambar, atau artikel berita, di situs Anda. Jika merasa tidak perlu memunculkan hasil ini di hasil gambar, video, atau berita, Anda mungkin tidak memerlukan peta situs.
Author

DailySEO ID membuka kesempatan untuk kontribusi konten/guest post seperti ini. Silakan hubungi kami untuk berkontribusi.

Write A Comment