Brand yang well-established dan “punya nama” seharusnya memiliki peluang lebih besar untuk muncul di AI Overview atau AI Search karena jejak digital yang banyak serta otoritas yang tinggi.

Bagaimana dengan brand baru?

Apakah mustahil muncul di AI Overview?

Jawabannya tidak mustahil. Eksperimen oleh No Fluff menunjukkan bahwa brand baru bisa muncul di AI Overview.

Metodologi Eksperimen

Sebuah brand yang bergerak di bisnis B2B dengan situs benar-benar dari nol: tanpa backlink, tanpa adanya artikel dari pers, bahkan tidak ada sejarahnya.

Visibilitas diukur dengan 150 prompt pada ChatGPT, Google AI overview, dan Perplexity.

Hasil Eksperimen

Dalam 6 minggu:

  1. Brand muncul pada 16,5% jawaban dari prompt dan respon AI yang relevan.
  2. Muncul pada 39 dari 150 jawaban dari prompt.
  3. Disebutkan (brand mention) 74 kali, dengan 42 sitasi.
  4. Akurasi sebesar 61,6% dengan 11% sitasi merujuk ke situs brand-nya.

Temuan Studi

Temuan dari studinya adalah sebagai berikut:

1. Struktur Konten Lebih Penting dari Topik

Struktur konten yang tidak jelas bahkan “tersasar” kurang menjadi opsi bagi AI.

Halaman yang disitasi umumnya punya struktur yang rapi dan punya langkah yang jelas (seperti artikel tutorial).

2. Terdapat “Penguat” Sosial

Pada periode 2 minggu, AI kerap mensitasi sumber seperti LinkedIn dan Medium.

Baca Juga:  Google Akan Mengintegrasikan Chat bot "Conversational AI" pada Google Search

Hal ini menandakan perlunya eksistensi brand baru di platform media sosial atau website lain, terutama yang berotoritas.

3. Situs dengan Loading Speed lebih Cepat, punya Peluang Disitasi AI lebih Besar

Semakin cepat loading speed situs, maka peluang disitasi AI akan meningkat. Hal ini menandakan pentingnya technical SEO, bahkan untuk optimasi AI Search.

4. Halaman Situs Tersitasi Pertama kali pada Hari ke-27 Eksperimen

Sama seperti SEO, optimasi untuk AI Search juga tidak instan.

Pada eksperimen tersebut, halaman situs baru tersitasi pada hari ke-27 eksperimen.

Bahkan setelah hari ke-27 tersebut, halaman lain pada website tersebut mulai disitasi oleh AI-nya dengan jarak 8 hari per halaman.

5. Fokus Pada Membangun Topical Authority di Awal

Pada 45 hari di awal, eksperimen ini berfokus mengasosiasikan brand dengan topik tertentu.

Jadi tidak langsung mengejar topik atau prompt sulit seperti “brand terbaik untuk mengatasi masalah x”.

Pelajari lebih lanjut tentang topical authority di sini.

6. “Validasi” dari Situs Lain tetap Penting

Meski struktur konten solid dan situs punya teknis yang baik, “validasi” situs lain tetap penting untuk muncul di AI Search.

Ini berarti off-page SEO memegang peranan kunci.

Jangan ragu untuk melakukan link building dan meminta brand mention serta kolaborasi dengan pemilik situs lain.

Brand Baru Masih Berkesempatan Muncul di AI Search

Situs atau brand masih baru? Jangan berkecil hati.

Telah ada eksperimen yang membuktikan bahwa meski baru, kesempatan untuk muncul di AI Search masih ada. 

Studi ini cocok diterapkan untuk website dengan niche B2B kemudian dibandingkan apakah hasilnya konsisten atau tidak.

Jadi, praktisi SEO terutama yang bekerja di niche B2B bisa memakai insight yang didapatkan dari studi ini.

Baca Juga:  Studi: AI Tidak Konsisten dalam Memberikan Rekomendasi Brand

Teman-teman bisa pelajari strategi B2B SEO di artikel ini.

Apabila teman-teman memiliki pertanyaan, silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

Referensi:

https://www.searchenginejournal.com/new-business-chatgpt-visibility-nofluff-spa/567226

Author

Digital marketing & website associate at Primecare Clinic. Has almost 4 years of experience in health industry, optimized digital health and clinic website. Founder/blogger of farisyudza.com

Write A Comment