Google baru saja merilis pembaruan pada dokumen Search Quality Rater Guidelines, pedoman resmi yang digunakan oleh penilai kualitas pencarian untuk mengevaluasi hasil SERP.

Menariknya, beberapa poin pembaruan ini selaras dengan masukan dari para pengguna yang hadir dalam acara Search Central Live 2025.

Di antara poin-poin pembaruannya, poin paling penting adalah pembaruan pada bagian yang mendefinisikan halaman dengan lowest quality (kualitas terendah), yang secara jelas mencerminkan jenis website yang ingin Google kecualikan dari SERP (Search Engine Results Page).

Google kini memberikan penekanan yang lebih jelas mengenai tipe-tipe halaman yang dianggap tidak layak muncul di hasil pencarian. Ini menjadi sinyal kuat mengenai jenis konten dan situs web yang ingin Google kurangi visibilitasnya di SERP.

Bagian 4.0 Lowest Quality Page

Dalam pembaruan terbaru Search Quality Rater Guidelines, Google menambahkan penekanan yang lebih jelas pada bagian Lowest Quality Pages, khususnya terkait Lowest Rating Criteria.

Selama ini, Google memang dikenal memiliki komitmen untuk mengurangi visibilitas website berkualitas rendah dari hasil pencarian (SERP). Maka dari itu, revisi ini bisa dilihat sebagai refleksi dari prioritas tersebut, yakni memperkuat upaya Google dalam menyaring dan menekan kemunculan konten yang tidak layak.

Yang membedakan pembaruan kali ini adalah fokus eksplisit pada “motif” penerbit konten.

Google kini mengarahkan para rater untuk tidak hanya menilai kualitas konten dari sisi teknis atau tampilannya saja, tetapi juga mempertimbangkan niat di balik konten tersebut.

Pada definisi sebelumnya menyatakan:

Lowest Rating diperlukan jika halaman tersebut memiliki tujuan yang berbahaya, atau jika halaman tersebut dirancang untuk menipu orang dari tujuan sebenarnya atau siapa yang bertanggung jawab atas konten di halaman tersebut.

Versi baru ini mempertahankan kalimat tersebut tetapi menambahkan kalimat baru yang lebih menekankan quality rater (penilai kualitas) untuk mempertimbangkan motif yang mendasari penerbit yang bertanggung jawab atas adanya halaman web tersebut.

Fokus dari panduan ini adalah untuk mendorong penilai kualitas agar mempertimbangkan bagaimana halaman tersebut bermanfaat bagi pengunjung website dan menilai apakah tujuan dari halaman tersebut sepenuhnya (hanya) untuk keuntungan semata.

Tambahannya adalah:

Lowest Rating diperlukan jika halaman dibuat untuk menguntungkan pemilik website (misalnya untuk menghasilkan uang) dengan usaha yang sangat sedikit atau tidak ada usaha sama sekali untuk memberikan manfaat bagi pengunjung website atau tidak memiliki tujuan yang bermanfaat.

Sebetulnya tidak ada yang salah jika teman-teman termotivasi untuk mendapatkan penghasilan dari website.

Baca Juga:  Pengertian & Cara Mengukur ROI dalam SEO Beserta Contoh

Namun, yang dilihat Google adalah apakah konten tersebut hanya untuk satu tujuan tersebut atau ada manfaatnya bagi pengguna?

Fokus pada Upaya di Balik Pembuatan Konten

Pembaruan lain yang tak kalah penting dalam Rater Guidelines terbaru adalah penekanan pada upaya atau usaha yang dilakukan dalam membuat sebuah konten atau website.

Ini bukan berarti teman-teman harus mendokumentasikan usaha dan waktu yang dicurahkan untuk membuat konten Anda, tapi lebih ke mencari bukti bahwa konten tersebut bisa dibedakan dari konten milik website lain, serta memberikan manfaat yang jelas ketika dibandingkan dengan konten lainnya di internet.

Versi sebelumnya di bagian tentang MC (Main Content):

MC disalin, dibuat secara otomatis, atau dibuat tanpa usaha yang cukup.

Versi baru memiliki lebih banyak nuansa tentang MC (Main Content):

“MC dibuat dengan sedikit usaha atau tanpa usaha, sangat sedikit atau tidak orisinal sama sekali dan MC tidak menambah nilai positif apa pun dibandingkan dengan halaman yang serupa di internet”

Ada tiga hal yang perlu dijelaskan dari pernyataan terbaru di atas:

  1. Konten yang dibuat dengan sedikit atau tanpa usaha.
  2. Mengandung sedikit atau tanpa orisinalitas.
  3. Konten utama tidak memberikan nilai tambah.

Penerbit yang fokus untuk bersaing dengan kompetitor harus berhati-hati agar mereka tidak membuat hal yang sama dengan kompetitor mereka.

Jika Anda berargumen bahwa kontennya berbeda, hanya topiknya saja yang sama, dan dibuat dengan lebih baik, itu tidak akan mengubah fakta bahwa konten tersebut adalah hal yang sama.

Bahkan jika konten tersebut sepuluh kali lebih baik, faktanya secara dasar konten tersebut masih sama dengan konten kompetitor Anda, hanya saja dibuat sepuluh kali lebih banyak.

Ingat, yang harus kita berikan adalah manfaat bagi audiens, bukan hanya tentang jumlah kata atau poin-poin pembahasan yang lebih banyak.

Sekilas Tentang Content Gap Analysis

Ada sebuah aktivitas SEO yang sangat populer dengan istilah Content Gap Analysis (Analisis Kesenjangan Konten).

Content Gap Analysis adalah tentang melakukan peninjauan kompetitor untuk mengidentifikasi topik yang dimiliki oleh kompetitor namun tidak ada di website si peninjau, si peninjau lalu menyalin topik tersebut untuk mengisi content gap tersebut.

Hal seperti itulah yang menyebabkan tidak adanya orisinalitas, sehingga konten yang dibuat tidak dapat dibedakan dari konten lain yang ada di Internet.

Menganalisa Google PAA (People Also Asked) seperti yang orang lain lakukan tidak akan menghasilkan konten yang orisinil.

Karena tindakan ini hanya akan menghasilkan konten yang sama persis dengan orang lain yang juga menganalisa PAA.

Baca Juga:  Studi Kasus Kegagalan Jason Kilgore dalam SEO: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Kurangnya orisinalitas adalah masalah besar bagi konten-konten yang ada di internet saat ini dan hal tersebut pernah dibahas secara menyeluruh oleh Danny Sullivan pada acara Google Search Central Live baru-baru ini di New York.

Daripada melakukan content gap, lebih baik Anda menganalisa kelemahan kompetitor Anda, kemudian lihatlah kekuatan mereka, setelah itu bandingkan dengan kelemahan dan kekuatan Anda sendiri.

Kelemahan kompetitor bisa teman-teman konversi menjadi kekuatan untuk dapat bersaing secara kompetitif dengan mereka.

Kesimpulannya

Penekanan Google pada Penilaian Kualitas Berlandaskan Motif

  • Quality raters sekarang didorong untuk menilai tidak hanya konten, tetapi juga maksud/motif yang ada di baliknya.
  • Halaman yang dibuat hanya untuk monetisasi, tanpa ada benefit bagi pengguna, harus diberi lowest rating.
  • Hal ini mungkin menandakan niat Google untuk menyempurnakan kemampuan mereka dalam menyaring konten berkualitas rendah berdasarkan user experience (pengalaman pengguna).

Upaya/Usaha yang Dilakukan dan Orisinalitas Kini Menjadi Quality Signal yang Utama

  • Konten minim upaya atau tidak orisinal secara eksplisit disebut sebagai faktor utama untuk lowest rating.
  • Hal ini mungkin menjadi tanda bahwa algoritma Google mungkin semakin fokus pada konten dengan tingkat orisinalitas yang lebih tinggi.
  • Konten yang tidak memberikan benefit lebih mungkin akan sulit ditemukan di hasil pencarian.

Rater Guideline Google Mencerminkan Pesan dari Publik

  • Perubahan yang terjadi di panduan ini mencerminkan poin-poin pembicaraan di acara Search Central Live yang baru saja diadakan.
  • Hal ini menunjukkan bahwa algoritma Google mungkin akan menjadi semakin presisi dalam hal-hal terkait orisinalitas, nilai tambah, dan upaya yang dilakukan untuk membuat konten.
  • Artinya penerbit harus mempertimbangkan taktik atau strategi yang sesuai untuk membuat website mereka tampil lebih orisinal dibandingkan dengan website lain.

Google memperbarui Quality Rater Guidelines untuk mempertegas garis perbedaan antara konten yang memberikan manfaat terhadap pengguna dan konten yang hanya bermaksud untuk mendatangkan keuntungan saja.

Kemudian halaman yang dibuat dengan sedikit usaha, tanpa orisinalitas, atau tanpa manfaat lebih bagi pengguna sekarang tergolong sebagai lowest rating content (konten dengan kualitas terendah), meskipun secara jumlah kata atau panjang konten terlihat lebih lengkap daripada halaman milik kompetitornya.

Untuk panduan lengkapnya, silakan unduh file Search Quality Raters Guidelines di sini.

Demikianlah tulisan mengenai pembaruan Search Rater Guideline dari Google ini, jika Anda memiliki pertanyaan silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

References:

https://www.searchenginejournal.com/googles-updated-raters-guidelines-refines-concept-of-low-quality/545766

Author

I began my SEO journey in 2017 and deepened my expertise in 2019. Since then, I’ve managed SEO for Farmaku.com, DokterSehat.com, and Impulse Digital Agency, while also contributing to DailySEO ID. Now, as a full-time freelancer, I focus on helping B2B companies improve their search visibility and achieve their goals.

Write A Comment