Dari sekian banyak matriks SEO yang perlu diperhatikan, mungkin saja beberapa praktisi SEO tidak begitu memperhatikan dua matriks ini, yaitu exit rate dan bounce rate.

Padahal, kedua matriks tersebut berperan penting sebagai bahan evaluasi strategi SEO yang sudah teman-teman jalankan selama ini.

Sebagian besar dari teman-teman, khususnya yang berprofesi sebagai SEO Specialist tentu sudah tidak asing lagi dengan bounce rate.

Akan tetapi, ada satu istilah yang perlu Anda perhatikan juga, yaitu exit rate.

Nah, kira-kira apa maksudnya?

Di mana letak perbedaan antara exit rate dan bounce rate?

Mari kita kupas tuntas dalam artikel ini!

Apa itu Exit Rate?

Exit rate merupakan matriks yang dihitung ketika user meninggalkan suatu halaman tertentu setelah sebelumnya sudah mengeksplorasi halaman website lainnya.

Sebagai contoh, pada awalnya user sudah membuka halaman-halaman seperti beranda, tentang kami, harga, dan lain-lain.

Setelahnya, ketika dia tiba di halaman produk tiba-tiba user meninggalkan halaman tersebut, di situlah persentase exit rate dihitung.

Persentase exit rate yang bagus tergantung dengan jenis website yang teman-teman kelola.

Jika Anda mengelola website untuk artikel blog saja, perkiraan persentasenya yang bagus yaitu sekitar angka 70 – 80%.

Namun, apabila teman-teman mengelola website yang lebih kompleks seperti e-commerce, angka ideal terbaiknya yaitu di 20 – 40%.

Jika angkanya lebih dari 40% untuk website e-commerce, besar kemungkinan hal tersebut harus Anda perhatikan karena ada masalah dalam konversinya.

Cara Menghitung Exit Rate

Untuk melihat data exit rate, teman-teman bisa mengunjungi Google Analytics 4.

Di situ, Anda perlu pergi ke “Explore”, kemudian tambahkan beberapa elemen untuk “Dimensions” seperti “Page path and screen class” atau “Page path + query string”. 

Setelah itu, pilih juga di bagian “Metrics” dan sortir untuk “Exits”, “Views” dan “Entrance” Nantinya, akan ditampilkan data seperti ini.

Dok. Maulana Adieb

Selain itu, Anda juga bisa menggunakan formula sebagai berikut:

Exit rate (%) = (Jumlah exits untuk halaman / total jumlah visits) x 100. 

Agar lebih mudah, mari coba saya buatkan contohnya:

Misalnya, Anda mempunyai halaman produk untuk kelas online. Anggaplah untuk halaman produk tersebut total visit-nya menyentuh angka 10.000 dalam sebulan.

Dalam periode tersebut, ada sekitar 2.000 sesi berakhir atau keluar untuk halaman produk itu. 

Maka, kita bisa gunakan perhitungan sebagai berikut:

Exit rate = (2.000 / 10.000) x 100 = 20%

Dengan demikian, sebanyak 20% sesi berakhir di halaman produk kelas online tersebut atau persentase exit rate-nya.

Baca Juga:  Konten Evergreen Vs Trending, Mana yang Harus Diprioritaskan untuk SEO Content?

Apa itu Bounce Rate?

Di sisi lain, bounce rate merupakan persentase ketika user hanya meninggalkan satu halaman saja dari sebuah website.

Hal ini berbeda dengan exit rate yang dihitung setelah user mengunjungi berbagai halaman di sebuah website dan pergi meninggalkan website setelah melihat halaman tertentu.

Contoh mudahnya, ada user yang mengunjungi website Anda untuk halaman landing page produk.

Setelah itu, user tersebut tidak melanjutkan penjelajahannya dan memilih untuk meninggalkan website teman-teman.

Nah, hal tersebut sudah dihitung untuk bounce rate website.

Untuk angka bounce rate, idealnya menyentuh angka 40%.

Perlu diingat lagi untuk teman-teman, semakin besar persentase angka bounce rate, maka semakin jelek performa website Anda.

Bounce rate bisa teman-teman lihat laporan datanya melalui Google Analytics 4.

Perbedaan Exit Rate dengan Bounce Rate

Mungkin, sebagian besar dari teman-teman sudah bisa mengidentifikasi perbedaan antara exit rate dan bounce rate dari definisi yang sudah dijelaskan.

Akan tetapi, agar lebih jelasnya saya akan coba memaparkan letak perbedaan antara keduanya.

1. Fokus Pengukuran Halaman

Seperti yang sudah kita jelaskan pada poin atas, exit rate mengukur setiap halaman yang dikunjungi oleh user sebelum pada akhirnya ia berakhir di suatu halaman tertentu.

Melalui matriks ini, kita jadi bisa tahu customer journey dalam website dan membenahi halaman yang ditinggalkan oleh user.

Sedangkan, bounce rate hanya dihitung ketika user masuk ke halaman website kita, lalu meninggalkannya begitu saja tanpa mengunjungi halaman lain.

Hal ini bisa menyadarkan kita bahwa mungkin saja halaman yang dikunjungi user kurang bermanfaat sehingga mereka memilih meninggalkan website kita.

2. Tindakan yang Harus Dilakukan

Exit rate cenderung melihat untuk customer journey.

Itu berarti, kita perlu tindakan yang memudahkan user dalam mengeksplorasi website kita.

Misanya, teman-teman harus memperbaiki navigasi website, memperbarui konten yang tidak relevan, atau mungkin masalah tombol user saat hendak checkout.

Sedangkan bounce rate hanya berdampak untuk satu halaman saja.

Dengan demikian, maka tindakan yang bisa Anda lakukan yaitu memperbaiki konten tersebut, desain UI/UX yang buruk, atau memperbaiki kecepatan loading situs Anda.

Kalau dilihat dari letak perbedaan kedua matriks di atas, kira-kira mana yang lebih penting untuk diprioritaskan?

Jawabannya adalah kedua sangat penting untuk Anda optimasi secara bersamaan karena menyangkut dengan performa website Anda di mata user dan search engine seperti Google dan Bing.

Tips Mengurangi Angka Exit Rate dan Bounce Rate

Sekarang, kita menyadari bahwa exit rate dan bounce rate merupakan kedua matriks yang berjalan beriringan.

Keduanya perlu dioptimasi dengan baik agar website kita semakin disukai oleh user. Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan:

Baca Juga:  Mengenal Anchor Text dan Cara Optimasinya, Pemula Wajib Paham!

1. Buat Menu Navigasi yang Jelas

Navigasi website yang intuitif dan terarah akan sangat disenangi oleh user saat berkunjung.

Ibaratnya, user sedang mengunjungi sebuah tempat, kemudian arah panah yang disediakan oleh pemilik tempat sangat jelas, mulai dari arah ke tempat wahana, mushola, toilet, tempat makan, dan lain-lain.

Hal ini juga sama dengan website.

Pastikan label menu pada navigasi dibuat jelas, seperti beranda, blog/artikel, produk, dan lain-lain.

Selain itu, tambahkan juga internal link yang relevan untuk konten supaya user betah di website teman-teman.

2. Buat Konten yang Relevan dan Berkualitas

Saat ini, sudah banyak sekali konten yang bertebaran untuk satu topik tertentu.

Oleh karena itu, penting bagi teman-teman untuk mempertimbangkan produksi konten yang berkualitas bagi user.

Konten yang berkualitas itu seperti apa?

Konten yang menjawab pain point dari user serta memenuhi kriteria dari E-E-A-T Google.

Tambahkan juga information gain pada artikel supaya user mendapatkan sesuatu yang baru setelah membaca konten teman-teman.

Tidak cuman berkualitas, konten yang teman-teman buat juga harus relevan dengan target audiens Anda saat ini.

Oleh karena itu, sebelum membuat konten dan keyword research, sebaiknya Anda perlu melakukan riset audiens terlebih dahulu.

3. Tingkatkan User Experience

Tidak hanya konten, teman-teman juga perlu memperbaiki Core Web Vitals (CWV) website Anda.

Hal tersebut dilakukan guna memperbaiki kecepatan loading website Anda.

Langkah ini bisa dilakukan dengan cek performa CWV website Anda melalui Google Search Console atau PageSpeed Insight.

Selain kecepatan loading, teman-teman juga perlu memperhatikan UI/UX website Anda supaya user juga nyaman saat eksplorasi.

4. Bangun Ekosistem Internal Link yang Kuat

Internal link kerap kali disepelekan oleh para praktisi.

Padahal, membangun internal link yang relevan antar halaman dapat membantu user untuk terus bertahan lama di website Anda.

Oleh karena itu, Anda perlu mengatur strategi membangun internal link.

Misalnya, dengan membuat sheet untuk membuat data halaman mana yang saling berkaitan satu sama lain supaya dapat dicantumkan internal link di dalamnya.

Internal link yang kuat tidak hanya membantu user untuk mengeksplorasi website Anda, tetapi juga membantu Google untuk mengidentifikasi website Anda dengan baik.

Exit Rate dan Bounce Rate, Dua Matriks yang Wajib Diperhatikan

Meski berbeda dari segi penanganan dan pengukuran halamannya, exit rate dan bounce rate harus dioptimasi secara berbarengan.

Secara garis besar, optimasi exit rate yang baik juga akan merembet ke penanganan bounce rate

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

Referensi:

https://www.shopify.com/id/blog/exit-rate-vs-bounce-rate

https://cxl.com/guides/bounce-rate/bounce-rate-vs-exit-rate

Author

SEO Content Specialist, Median Digital Indonesia | Former SEO Content at Zenius, Hipwee, and Glints | SEO Enthusiast

Write A Comment