Penggunaan tag canonical (canonicalization) berkaitan erat dengan URL apa yang akan mendapatkan ranking di SERP (search engine results page), namun benarkah jika canonicalization ini masuk ke dalam faktor yang memengaruhi ranking?

Anda mungkin pernah membaca atau mendengar bahwa penggunaan tag rel="canonical" adalah salah satu cara untuk memberi tahu search engine bahwa URL dengan tag canonical tersebut merupakan versi original dan lebih lengkap dari satu atau beberapa halaman lainnya. Sehingga URL tersebut yang kita harapkan akan mendapatkan ranking di SERP.

Pernyataan di atas adalah benar, namun bukan cuma itu fungsi dari rel="canonical".

Bahkan ketika Anda menggunakannya dengan benar, tidak ada jaminan dari Google akan memilih URL dengan tag canonical tersebut.

Kenapa begitu? Mari kita cari tahu bersama-sama tentang canonical URL dan bagaimana ia bisa dianggap sebagai salah satu faktor yang bisa memengaruhi ranking di SERP.

Baca juga: Apakah Menggunakan Breadcrumb Memengaruhi Ranking di Google Search?

Kita mulai dengan pengertian tag canonical, tag canonical adalah sebuah tag HTML (Hypertext Markup Language) yang bisa digunakan untuk memberitahu Google manakah versi halaman yang ingin kita tampilkan di SERP ketika kita memiliki beberapa halaman yang pembahasannya hampir mirip atau bahkan duplicate.

Misal, di sebuah website ada beberapa URL yang membahas tentang baju hijau, seperti halaman A.html, B.html, dan C.html. Karena semua kontennya mirip dan halaman A.html adalah halaman dengan konten baju hijau yang paling lengkap, kita ingin hanya A.html yang me-ranking di Google.

Baca Juga:   Apakah Tampilan Web Mobile Friendly Memengaruhi Ranking di Google Search?

Cara menggunakan canonical adalah dengan menambahkan tag berikut ini, di bagian <head> dari halaman B.html dan C.html:

<link rel="canonical" href="https://websitesaya.com/produk/A.html" />

canonical tag
Canonical Tag. Sumber: Verbolia.com

Contoh lain, misalnya sebuah halaman http://example.com/products.html punya beberapa variasi: halaman print version (dengan URL http://example.com/products_print.html), halaman AMP (dengan URL http://mobile.example.com/products.html), dan halaman versi PDF yang bisa di-download (dengan URL http://example.com/products.pdf). Perhatikan ada 4 (EMPAT!) variasi URL berbeda untuk satu konten yang sama.

Cara mengatasinya adalah dengan menggunakan canonical, menambahkan tag berikut ini, di bagian <head> dari halaman print version, AMP, dan versi PDF-nya.

<link rel="canonical" href="ttp://example.com/products.html" />

 

Canonicalization umumnya dipakai untuk menggabungkan duplicate URL dalam satu situs, namun bisa juga digunakan untuk konten yang di-republish atau ditautkan ke beberapa domain berbeda.

Kita sama-sama tahu bahwa Google tidak ingin menampilkan duplicate content di SERP, sehingga Anda diharuskan untuk memilih satu versi URL dan mengabaikan URL yang lain, dan hal inilah yang disebut dengan tag canonical.

Tag canonical ini tidak hanya berfungsi untuk memberi tahu Google manakah dari versi URL yang ingin ditampilkan di SERP, namun sebagian praktisi SEO juga percaya jika tag rel=”canonical” ini bisa “menyumbang” sinyal ranking dari satu halaman web ke halaman web lainnya.

Apakah benar demikian? Silakan lanjut membaca untuk tahu jawabannya.

Baca juga: Apakah Author Authority Memengaruhi Ranking di Google Search?

Bukti: Apakah Tag Canonical Salah Satu Faktor yang Memengaruhi Ranking?

Halaman resmi Google, guide to advanced SEO menuliskan secara lengkap tentang penggunaan tag canonical untuk mengatasi masalah duplicate URL. Tapi sayangnya mereka tidak menyebut apapun tentang pengaruh tag canonical terhadap search ranking.

John Mueller pernah membahas topik tag canonical dan search ranking di salah satu sesi tanya jawab SEO mingguan milikinya.

Baca Juga:   Apakah Domain Authority (DA) Memengaruhi Ranking di Google Search?

John Mueller merekomendasikan site owner maupun para webmaster untuk menggunakan tag rel="canonical" untuk mengatasi duplicate content, karena hal tersebut bisa menggabungkan sinyal ranking menjadi satu.

Berikut pernyataannya:

“Secara umum, Saya merekomendasikan penggunaan tag rel=”canonical” untuk duplicate content ketimbang penggunaan tag noindex.

Dengan tag noindex, itu artinya Anda memberitahu kami (Google) bahwa halaman web ini seharusnya tidak di-index sama sekali.

Sementara dengan penggunaan tag canonical, itu artinya Anda memberitahu kami (Google) bahwa halaman ini mirip dengan halaman lain yang Anda punya, dan hal itu membantu Google, karena setelah penggunaan tag canonical, Google bisa mengambil semua sinyal yang Google miliki untuk kedua halaman tadi dan menggabungkannya menjadi satu.

Sedangkan jika Anda hanya menggunakan tag noindex, atau memblokirnya di robots.txt, maka sinyal yang terkait dengan halaman tersebut akan hilang, atau dihapus.”

Pernyataan di atas mengonfirmasi bahwa Google mampu untuk menggabungkan beberapa sinyal ranking dari duplicate content ke dalam satu URL dengan tag HTML rel="canonical".

Baca juga: Apakah Anchor Text di Sebuah Link Memengaruhi Ranking di Google Search?

Kesimpulan: Tag Canonical TIDAK DAPAT MEMENGARUHI RANKING

Dari beberapa penjelasan dan pernyataan di atas, canonicalization dikonfirmasi memiliki hubungan dengan search ranking, akan tetapi ia bukanlah sebuah faktor yang memengaruhi ranking.

Tag rel="canonical" dapat kita gunakan untuk menggabungkan sinyal dari beberapa duplicate URL menjadi satu. Walaupun begitu, penerapan tag canonical bukanlah jaminan untuk meningkatkan ranking di SERP.

Karena ketika tag rel="canonical" digunakan dengan tepat, Google masih mungkin untuk mengabaikannya dan lebih memilih URL canonical-nya sendiri untuk ditampilkan di SERP.

Sehingga pada intinya, tag rel="canonical" ini lebih mengarah kepada saran penerapan, ketimbang “panduan wajib SEO”, dan sudah jelas bukanlah salah faktor yang dapat memengaruhi ranking di search engine.

Sumber:

Baca Juga:   Template/Theme yang Sama, Aman Kok Dipakai Di Berbagai Website, Kata Google

https://www.searchenginejournal.com/ranking-factors/canonicalization/

Author

Touched SEO in 2014 and dive more deeply in 2019. Currently working at Farmaku & DokterSehat as an SEO Specialist.

Write A Comment