Coba ingat lagi kapan terakhir kali Anda belanja sesuatu secara online.

Anda buka Google, ketik nama produknya, dan klik salah satu hasil yang muncul.

Mungkin itu marketplace, mungkin itu website brand langsung.

Sekarang bayangkan posisi Anda sebagai seller.

Kalau ada orang yang mencari produk Anda di Google hari ini, apakah mereka bisa menemukan Anda?

Kalau jawabannya “tidak tahu” atau “kayaknya sih tidak”, maka artikel ini untuk Anda.

Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?

Sejak pertengahan 2025, banyak seller Tokopedia, Shopee merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Sistem berubah, antarmuka berbeda, pencairan dana tidak secepat dulu, dan potongan komisi makin besar.

Ini bukan gosip.

CNBC Indonesia melaporkan bahwa penjual yang belum migrasi ke sistem integrasi baru TikTok Shop/Tokopedia tidak bisa lagi menambah produk atau memasang iklan sejak 9 Juni 2025.

Dampaknya nyata dan banyak yang merasakannya langsung.

Dok. Elizabeth

Tapi ada satu hal menarik yang muncul dari situasi ini: banyak seller mulai bertanya pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan.

“Gimana kalau saya punya toko sendiri di luar marketplace?”

Dan pertanyaan itu, kalau dijawab dengan kepala dingin, bisa membuka peluang yang cukup besar.

Jualan di Marketplace itu Seperti Ngontrak

Tidak ada yang salah dengan ngontrak. Banyak orang mulai dari sana, dan itu masuk akal.

Tapi namanya ngontrak, aturan bisa berubah kapan saja.

Harga sewa bisa naik, dan semua data tentang pelanggan Anda, riwayat pembelian mereka, kontak mereka, semua itu milik platform, bukan milik Anda.

Website sendiri itu seperti punya rumah sendiri.

Anda yang buat aturannya, Anda yang pegang datanya, dan tidak ada yang bisa tiba-tiba mengubah algoritmanya lalu membuat toko Anda tiba-tiba sepi.

Ini bukan berarti Anda harus tutup toko di marketplace besok.

Tapi mulai membangun sesuatu yang benar-benar milik Anda sendiri? Itu layak dipikirkan secara serius.

Angkanya Cukup Meyakinkan

Kalau Anda masih ragu, ada beberapa fakta yang menarik untuk diketahui.

Menurut data Statcounter per Februari 2025, Google digunakan oleh 93 dari 100 orang Indonesia saat mencari sesuatu di internet.

Bukan marketplace, bukan media sosial, tapi Google.

Dari seluruh pengunjung yang datang ke website e-commerce, sekitar sepertiga dari mereka datang dari pencarian organik di Google menurut laporan Applabx State of SEO Indonesia 2025.

Artinya mereka datang sendiri, tanpa Anda bayar iklan, karena mereka memang sedang mencari produk yang Anda jual.

Dan pasarnya sendiri?

BPS mencatat ada 4,4 juta usahae-commerce aktif di Indonesia pada 2024, dengan total nilai transaksi mencapai Rp1.288 triliun.

Baca Juga:  Mengapa Memperbanyak Konten Kini Tidak Lagi Efektif untuk SEO?

Pasar ini besar, nyata, dan terus tumbuh.

Infrastrukturnya pun sudah siap pakai.

QRIS sudah ada di mana-mana, pengiriman lewat JNE, J&T, atau SiCepat bisa diintegrasikan langsung ke website, dan sistem pembayaran tidak perlu ribet lagi seperti beberapa tahun lalu.

“Tapi Saya Tidak Ngerti SEO”

Ini yang paling sering didengar, dan ini wajar sekali.

SEO (Search Engine Optimization) terdengar teknis dan seperti urusan orang IT.

Tapi sebenarnya konsepnya sederhana: SEO adalah cara supaya toko online Anda mudah ditemukan orang di Google Search.

Analoginya begini:

Kalau toko fisik Anda ada di gang sempit tanpa papan nama, orang tidak akan tahu Anda ada di sana meskipun produk Anda bagus.

SEO itu seperti memasang papan nama besar dan jelas di jalan utama, supaya orang yang membutuhkan produk Anda langsung bisa menemukan Anda.

Dan Anda tidak harus mengerjakannya sendiri.

Dok. Elizabeth

Pelajari optimasi product page untuk ecommerce di ulasan berikut:

Sedang Menjalankan Website E-Commerce? Ini Strategi Optimasi Product Page-nya!

Yang Biasanya Terjadi Saat Seller Baru Punya Website

Ini cerita yang sering berulang: seorang seller memutuskan bikin website dengan desain bagus, produk lengkap, dan sistem pembayaran sudah ada.

Lalu sepi, tidak ada trafik organik atau user yang datang, padahal di marketplace toko masih ramai.

Kenapa ini terjadi?

Karena Google belum “tahu” website itu ada dan belum ada yang memberitahu Google bahwa toko ini bisa dipercaya dan produknya relevan.

Tugas SEO adalah memastikan Google tahu semua itu, dan kabar baiknya, ini bisa dipelajari secara bertahap.

5 Hal Praktis yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang

Ini bukan daftar tugas yang harus Anda selesaikan sendiri sekaligus. Anggap ini sebagai gambaran langkah-langkah nyata yang bisa dimulai satu per satu.

1. Pastikan Website Anda Bisa Dibuka Cepat di HP

Mayoritas orang Indonesia browsing lewat HP, bukan laptop.

Kalau website Anda butuh lebih dari 3 detik untuk loading, Google sendiri yang akan menurunkan peringkat Anda karena dianggap memberi pengalaman buruk ke pengunjung.

Coba cek kecepatan website Anda sekarang di PageSpeed Insights, gratis dan langsung keluar hasilnya.

2. Pikirkan Kata-kata yang Diketik Orang saat Mencari Produk Anda

Kalau Anda jual skincare untuk kulit berminyak, orang tidak selalu mengetik “skincare“.

Mereka mungkin mengetik “pelembab untuk kulit berminyak yang tidak bikin jerawat” atau “sunscreen tidak lengket buat kulit berminyak”.

Kata-kata spesifik seperti itu yang perlu ada di judul dan deskripsi produk Anda supaya Google tahu Anda relevan.

Pelajari lebih lanjut di artikel Langkah-langkah Riset Keyword E-Commerce ini.

3. Buat Satu Artikel yang Menjawab Pertanyaan Calon Pembeli Anda

Kalau Anda jual perlengkapan bayi, coba tulis artikel sederhana seperti “Kapan bayi mulai butuh bantal?” atau “Bedong vs sleeping bag, mana yang lebih praktis untuk newborn?”.

Orang tua muda banyak yang mencari informasi ini di Google, dan kalau mereka menemukan artikel Anda, mereka juga akan melihat produk Anda secara natural.

4. Daftarkan Bisnis Anda di Google Business Profile

Ini gratis dan bisa dikerjakan dalam 30 menit. Dengan mendaftar Google Business Profile (GBP), toko Anda akan muncul di Google Maps dan pencarian lokal seperti “toko skincare Jakarta Selatan”.

Baca Juga:  15 Tools AI untuk SEO yang Membuat Pekerjaan Anda Lebih Efisien

Pastikan juga ada testimoni pelanggan nyata di website, karena Google mempertimbangkan kepercayaan ini saat memutuskan apakah website Anda layak ditampilkan di halaman pertama.

5. Cari Satu Blogger atau Kreator Konten di Niche Produk Anda untuk Kolaborasi

Bayangkan ada blogger yang menulis “10 rekomendasi skincare lokal terbaik” dan menyebut toko Anda dengan link ke website Anda.

Google melihat itu sebagai tanda bahwa toko Anda dipercaya oleh pihak lain, dan semakin banyak referensi seperti itu, semakin Google mempercayai website Anda.

Mulai dari satu kolaborasi sederhana, bisa review produk atau artikel bareng.

Strategi yang Masuk Akal: Jalan Dua Rel Sekaligus

Tidak ada yang menyarankan Anda menutup toko marketplace dan langsung all-in ke website.

Itu berisiko dan tidak perlu.

Yang masuk akal adalah menjalankan keduanya secara bersamaan dengan peran yang berbeda.

Marketplace tetap jalan untuk menangkap pembeli yang sudah ada di sana, sementara website dibangun pelan-pelan sebagai aset jangka panjang yang Anda kendalikan sepenuhnya.

Tiga hal kecil yang bisa langsung dicoba hari ini:

  1. Di deskripsi produk marketplace, sebut bahwa varian lengkap tersedia di website resmi Anda. 
  2. Di packaging produk yang dikirim, sertakan kartu kecil dengan QR code yang mengarah ke website
  3. Dan mulai kumpulkan email atau nomor WhatsApp dari pembeli karena data itu milik Anda dan bisa dipakai untuk menjaga hubungan dengan pelanggan setia Anda sendiri.

Satu Hal yang Perlu Diingat Soal Waktu

SEO bukan sihir yang langsung bekerja dalam semalam, tapi ini juga bukan sesuatu yang hanya bisa dikerjakan orang IT.

Hasilnya butuh waktu, biasanya 3 sampai 6 bulan untuk mulai terasa menurut berbagai studi SEO.

Tapi begitu sudah berjalan, hasilnya terus bekerja bahkan saat Anda tidak sedang aktif beriklan.

Bandingkan dengan iklan berbayar, begitu Anda berhenti bayar, traffic berhenti.

Dengan SEO yang sudah terbangun, traffic (pengunjung website Anda) terus datang.

Menurut laporan Statista 2024, margin bersih seller di marketplace bisa terpangkas hingga 20 sampai 30 persen hanya dari biaya layanan dan potongan diskon wajib.

Sementara investasi SEO yang tepat menghasilkan traffic organik yang terus bekerja tanpa potongan dari siapapun.

Ini Bukan Tentang Meninggalkan Marketplace

Ini tentang tidak mau sepenuhnya bergantung pada satu platform yang aturannya bisa berubah kapan saja.

Website sendiri adalah cara untuk punya cadangan, punya rumah, punya tempat di mana data pelanggan Anda tersimpan dan Anda yang pegang kuncinya.

Keputusannya ada di tangan Anda. Tapi kalau Anda telah membaca artikel ini sampai selesai, kemungkinan besar Anda sudah setengah jalan untuk memutuskan.

Dan itu sudah merupakan langkah yang bagus.

Terakhir, jika teman-teman memiliki pertanyaan terkait, silakan tuliskan di kolom komentar di bawah atau bisa gabung ke grup Telegram DailySEO ID di sini.

Teman-teman juga bisa ajukan topik selanjutnya untuk kami bahas! Jika ingin belajar SEO dari ahlinya, yuk belajar di course-nya DailySEO ID!

Referensi:

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20250619165237-37-642370/seller-tokopedia-ramai-ramai-migrasi-begini-nasib-yang-enggan-pindah

https://gs.statcounter.com/search-engine-market-share/all/indonesia/#monthly-202502-202603

https://blog.applabx.com/the-state-of-seo-in-indonesia-in-2025/

https://www.bps.go.id/id/publication/2025/11/28/647323224ecc656c2933571b/statistik-e-commerce-2024.html

https://www.statista.com/study/60342/e-commerce-in-indonesia/

Author

Menulis tentang SEO, content, dan growth dengan pendekatan yang sederhana dan praktikal. Fokus pada bagaimana membangun aset digital yang benar-benar berdampak untuk bisnis.

Write A Comment